Fihi ma fihi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, March 16, 2018

Fihi ma fihi

Nampaknya memang lebih baik menjadi orang yg tak tahu apa-apa. Karena seseorang dibebani sesuai dengan pengetahuannya. Ada sampah berserakan, jika kau tahu itu kotor, maka kau dibebani untuk membersihkannya. Tapi memilih berdiam diri dari kebodohan ibarat kerbau. Ia bisa lari atau berontak ketika dipecut, tapi memilih tunduk. Alih-alih kerbau itu stereotip, manusia sebenarnya tak jauh berbeda. Dia bodoh atau kuat? Atau kebodohan yg terlalu kuat?_Jon Q_ "Mengapa ada malaikat jika Tuhan berkuasa atas segalanya?" tanya seorang siswa pada Jon. "Saya tak senang dengan jawaban normatif, sebagai pelayan, dan lain-lain. Tidak adakah jawaban yg lebih bisa diterima akal? Apakah para ilmuwan percaya malaikat ada? Bagaimana penjelasannya?" Siapakah yg menjadikan angkasa bergerak teratur? Tumbuhan berfotosintesis, hewan bermetamorfosis? Ilmuwan fisika mengatakan semua ada hukum yg mengatur itu. Bumi tak terhisap matahari, antar planet tak bertabrakan, jika bumi, bulan, matahari berada dalam satu garis lurus akan terjadi gerhana, mereka menyebut itu karena gravitasi. Bukan malaikat. Seperti seorang dokter yg memeriksa pasien sakit kulit. Di atas permukaan kulit manusia ada sepasang bakteri yg saling menjaga keseimbangan. Ketika satu bakteri lebih banyak dari bakteri pasangannya, entah itu efek sabun atau kosmetik, maka akan muncul penyakit. Bukan malaikat yg memberi itu, agar, misalnya, orang yg sakit itu taubat.
Orang merasa begitu dekat dengan Tuhan, begitu khusyu. Tapi ilmu otak (neurosains) menjelaskan, itu hanya proses neuron yg memenangkan diri menuju God Spot mengalahkan neuron yg menuju bagian lain di korteks cerebral. Cross inhibition, kata mereka. 'Tidak ada' peran malaikat. Hujan turun karena proses penguapan seperti yg kita pelajari saat SD, bukan atas kerja Malaikat Mikail. Manusia mati karena tidak adanya oksigen dalam otak, dan lobus frontal memberi instruksi pada jantung untuk 'meledakan' dirinya. Bukan karena malaikat Izrail. Fihi ma fihi. Di dalam yg terdalam. Malaikat ada di balik hukum fisika. Para ilmuwan sadar, ada kekuatan di balik hukum-hukum alam yg tepat. Kekuatan itu, bukan 'secara langsung' itu Tuhan, karena Ia fihi ma fihi, tapi yg disebut orang-orang beragama sebagai Malaikat. Para ilmuwan sadar, ada 'ruang' tak terjelaskan oleh ilmu pengetahuan di balik hukum-hukum fisika yg mereka temukan. Ilmu pengetahuan membentang jauh, menjelaskan seakan-akan detail, tentang nyaris segala hal, tapi ilmu pengetahuan tak mampu menyentuh 'ujung-ujung sisi' semesta. Ia terbatas. Tapi wilayah malaikat masih dalam 'ruang' dan 'waktu'. Banyak ayat-ayat yg menyatakan, perjalanannya memakan waktu sehari yg setara 1000 tahun (di ayat lain lebih lama lagi) dalam hitungan waktu manusia, untuk 'sampai pada Tuhan'. Mereka masih 'terkurung' dalam dimensi ruang dan waktu. Sedang Tuhan 'di balik itu'. Fihi ma fihi, di dalam yg terdalam, nurul fawqo nuri, cahaya di atas cahaya.

#konsultasipsikisgratis #konsultasi #psikis #gratis

Bacaan selanjutnya

Sebutir cahaya yang terpilih Titik ba

No comments:

Post a Comment