Hikayat orang-orang gila - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, March 4, 2018

Hikayat orang-orang gila

Sabar itu hanya pada satu hal, ketika kita merasa ada hal buruk yg kita rasakan. Tapi syukur itu pada dua hal, mendapat kebaikan - syakur, dan ketika mendapat keburukan - syakir. Syukur ketika mendapat keburukan, secara langsung orang itu sudah mencapai derajat ikhlas._Jon Q_

Konseling Jumat siang itu terlaksana lagi. Jam 1 si Jon sudah duduk anteng di ruang tamu. Diawali mengaji, mengoreksi makhrojul hurf, dan tajwid, lalu diskusi.

"Sekarang yg lagi marak adalah pelecehan seksual," kata klien. "Anak-anak remaja berkata jorok pada sesamanya, pada orang dewasa, berani benar,"

"Lah bagaimana tak rusak?" Jon menanggapi. Konseling pada si Jon bukan malah bikin sehat jiwanya, tapi makin sesat saja. "Kita ini sarjana, kaum terpelajar, guru, kaum intelektual, berteriak sedih 'Indonesia darurat moral!' tapi ketika diajak membuat forum kajian ilmiah, forum diskusi, apa jawab mereka? 'Maaf ya, saya sibuk!' 'Jangan seminggu sekali, 2 minggu atau sebulan sekali saja'. Dikira arisan? Kita belajar seperti ini hari ini, apakah 2 minggu mendatang masih ingat? Kita teriak sedih anak-anak kita bikin rumah jadi kotor, pas diajak bebersih, mereka menolak?"

"Tapi banyak kok yg merasa dirugikan," kata klien lagi. "Guru-guru, mereka merasa risih dan marah ketika siswa begitu. Tapi memang susah untuk membuat budaya diskusi seperti itu,"

"Ini memang tujuan musuh bangsa kita," kata Jon.

"Coba buka Al A'raf ayat 127 : Sanuqotilu abnaa-ahum wa nastahyii nisaa-ahum. Kami akan 'bunuh' semua anak laki-laki, dan membiarkan hidup anak perempuan. Itu kata Fir'aun. Anak laki-laki bangsa ini jadi bodoh, tak bisa berlogika, semua ingin cepat kaya, sistem pendidikan kita diserang," "Coba buka Surah Al Fath ayat 29," lanjut Jon. Klien membuka qur'annya. "Siymahum fi wujuhihim min atsarissujud. Ada tanda-tanda diwajahnya bekas-bekas sujud," "Ini arti sebenarnya atau simbolis sih?" tanya klien.

 "Denotasi, dan juga simbolis," jawab Jon. "Mereka, orang-orang yg keningnya menghitam, entah mengapa memotong ayat itu. Ada kalimat sebelum itu, Muhammad adalah utusan Allah. Dia bersikap keras pada orang kafir dan berkasih sayang pada sesamanya. Ada dua poin penting, pertama, saat mereka merasa orang-orang yg melestarikan budaya Islam sebagai ahli bid'ah, khurafat, dan menyalahkan itu. Apa mereka yakin mereka telah berada dalam jalan kebenaran? Kalau sudah, mengapa berkata kasar seperti itu pada sesama muslim? Bukankah rasul berkasih sayang pada sesama muslim? Kedua, oke, kita sebut mereka yg melestarikan budaya islam pantas dikasari. Tapi rasulullah kasar cuma pada orang kafir. Jadi orang muslim seperti itu termasuk kafir? Bukankah mengkafirkan itu hak allah dan rasul?"

"Mereka mungkin tak paham mengapa Islam disebut sebagai rahmatan lil alamin," Jon melanjutkan. "Cinta untuk seluruh alam. Bukan cuma pada manusia, Jin, alam, tapi juga seluruh disiplin ilmu dan aspek kehidupan. Islam mengislamkan ekonomi, agar jangan ada riba, mengislamkan sosial budaya historis dengan konsep asimilasi dan akulturasi. Asimilasi, budaya arab yg mengislamkan nusantara : maulud, isra mi'raj, dll. Akulturasi : tahlil, 7 bulanan, talkin, dll. Dulu nenek moyang kita animisme dinamisme, lalu datang hindu budha, lalu islam, tanpa perang atau pemaksaan."

"Mungkin pemahaman begitu ya, yg menjadikan ulama sepuh kita lebih toleran daripada mereka," klien menanggapi.

"Sabar itu, tetap tenang dan terus berjuang dalam kesusahan," kata Jon. "Syukur itu, menikmati kemudahan dan terus berjuang. Tapi, ada orang-orang yg pandangan hidupnya tak seperti kita. Mereka sedang kesusahan, tapi mengucap alhamdulillah. Seorang kepala sekolah diburu rapat, tapi ban motornya bocor, dia tak mengeluh, malah mengucah alhamdulillah,"

 "Iya, seperti kisah kemarin di media massa. Ada nenek-nenek jatuh dari bus, mulutnya berdarah, tapi dia malah mengucap alhamdulillah. Hikmah macam apa yg dimilikinya?"

Umar ibn Khottob berkata, "Aku tak tahu mana yg benar-benar baik atau buruk untukku, karena yg maha tahu itu adalah Allah,"

Qutiba 'alaykumul qital wahuwa kurhulakum, wa'asaa antakrohu syai'aw wa huwa khoirulakum, wa asaa antahibbu syai'aw wa huwa syarulakum. Berjuang, bekerja keras, berperang menaklukan diri sendiri itu wajib. Bisa jadi yg baik menurut kita ternyata membawa bencana. Dan yg buruk bagi kita ternyata membawa hikmah.

Bacaan selanjutnya

Qutiba Alaikumul Qital                                             Pemuda gila dan masyarakat sehat jiwa raga

No comments:

Post a Comment