Ikhlas itu... Seperti 'ini' (?) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, March 19, 2018

Ikhlas itu... Seperti 'ini' (?)

Barangkali tentang penerimaan, tapi mungkin juga tentang menghilangkan kewarasan, menundukan pikiran, atau tentang disiplin menyakitkan mengendalikan keinginan. Tidak ada penjelasan singkat. Karena, ikhlas juga termasuk ketika kita jujur berkata bahwa kita tidak ikhlas. Ketika kita berkata tidak ikhlas, sebenarnya kita telah ikhlas._Jon Q_
Manusia itu makhluk kasian, yg rasa sakitnya merasa membaik ketika tahu ada orang yg bernasib sama. Merasa membaik ketika ada orang yg sama menderitanya. Merasa membaik ketika ada orang menderita. Ada orang menderita, merasa membaik? Itu kenapa disebut 'kasian'. Pertanyaan tentang keikhlasan bisa dijawab, dijelaskan dengan singkat.

 "Ikhlas itu apa?"

 "Ikhlas itu saat kita ikhlas kalau pertanyaan itu tak harus terjawab, tak harus terjelaskan," Penjelasan sederhana justru semakin susah di pahami. Penjelasan panjang, mungkin mudah dipahami, tapi seringkali berat dipraktek. Tapi baiklah, sebuah cerita tentang Jon Quixote mudah-mudahan bisa 'menjelaskan' apa itu ikhlas. Tentu, dalam lingkup kecil. Sangat kecil. Kisah bagaimana ibu si Jon menganggap bagaimana hidup si Jon. Di balik, katakanlah, anggapan-anggapan berlebihan teman-teman Jon di belahan bumi sana, ibu Jon hanya melihatnya sebagai pemuda yg ringkih dan butuh makan.

Tak ada kebanggan, tak ada pujian, bahkan pengakuan, karena ibunya bahkan tak pernah mengintip ijazah atau lembar nilai selama ia kuliah. Kalaupun melihat, ia tak akan paham. Ciri khas ibu-ibu dari jaman purba. Yg penting anak pulang dan dapat makan. (haha) Mengapa sebagian temannya menganggap si Jon 'berlebihan'? Ia dikagumi banyak temannya, ditunggu pemikirannya, tak menolak permintaan banyak teman, guru (dosen) sekalipun teman atau dosen itu tak menyukainya. Menemani diskusi, menerawang pencuri, 'memanggil' dompet hilang, trik bela diri jalanan, menyervis radio tape mobil dosen, sampai menyelamatkan kucing yg terkunci di rumah berpagar 3 meter.

 Ia belajar menyehatkan akalnya, belajar banyak hal. Tentang mengapa perempuan 2x lipat lebih cepat lupa, darimana air di dalam buah kelapa, sampai membedakan mana klenik, mistik, dan gaib. Ia meninggikan imannya, mengobrak-abrik 'singgasana' Tuhan, mempertanyakan keberadaan-Nya di hadapan kepedihan dunia, sampai keraguannya yg menyakitkan melahirkan keimanannya yg kuat. Kini ia memimpin banyak orang, paling tidak, daripada kita yg memimpin diri sendiri saja kerepotan. Ia bekerja, memimpin, jadi guru, pembicara, konselor, penulis, penyair amatir, motivator, sutradara, kadang-kadang juga mengobati orang-orang dengan sakit aneh. Apakah ia memiliki kekasih? Nyatanya ia gagal sampai 15x. Ia masih menjomblo.

 Seperti orang yg merasa di puncak gunung itu ada sesuatu yg membuatnya bahagia dan diakui banyak orang, lalu ia mendaki, terluka, tapi terus jalan hingga di puncak. Tapi setelah ia berada dalam pencapaian itu, ia tahu, kebahagiaan tak berada di sana, dan bahagia bukan tentang pengakuan banyak orang. Itu tentang penerimaan, tapi juga pelepasan keterikatan. Tentang menyehatkan jiwa, tapi dengan resiko teranggap gila. Itu mengapa ibu Jon tak merasa bangga. Tak ada pujian, tak ada pengakuan. Karena Jon tak lebih membutuhkan itu daripada makan. Setelah mencapai semua itu, ia tak merasa memiliki apapun. Ia tak galau masih sendiri. Bahkan jika nabinya tak mensunahkan menikah mungkin ia tak akan menikah. Ia telah bahagia? Tidak ada ukurannya. Kita hanya menyebutnya gila. Kita ingin jadi orang ikhlas, tapi kita tak mau menjadi seperti itu : teranggap gila.

#konsultasipsikisgratis #konsultasi #psikis #gratis

Bacaan selanjutnya

Cerita tentang ketegaran Cerita tentang keterlepasan

No comments:

Post a Comment