Jeda waktu - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, March 5, 2018

Jeda waktu

Terkadang, dunia ini memang terlihat tak adil, pilih kasih, kejam, mengapa kita menganggap begitu? Keinginan. Antara terang dan hujan ada mendung. Antara lahir dan mati ada hidup. Antara ulat dan kupu-kupu ada kepompong. Kita butuh jeda waktu. Jeda yg digunakan dunia mengubah kita yg lemah menjadi semakin sempurna._Jon Q_

Ada seorang sarjana muda. Ia insinyur dari kampus ternama. Ia arsitek bangunan, dan ayahnya hanya petani dan pemilik kebun pohon jati. Sang anak ingin kerja di luar negeri. Ia pintar, terampil, lulus cumlaude. Tapi ayahnya, yg menurutnya buta huruf dan kampungan, menyuruhnya tinggal di rumah kecil di kebun jati. Sang sarjana stress. Ia minta pulpen dan kertas desain, ayahnya memberi golok dan gergaji. Untuk apa? Ia meminta penggaris dan jangka, ayahnya memberi alat bor : pelubang kayu. Ia meminta alat ukur, ayahnya memberi gergaji mesin. Mereka tinggal di kaki gunung yg masih aktif. Sering terjadi gempa. Iseng, sang sarjana membuat gubuk dari kayu jati yg dipasang tanpa paku. Ia melubangi kayu tiap pasangannya. Waktu berlalu. Begitu lamban, katanya. Saat suatu sore ia tertidur, gempa besar terjadi. Gubuknya terbuat dari kayu, model panggung, tanpa paku. Itu cuma bergoyang tak terasa. Tapi tidak dengan rumah ayahnya. Rumahnya dulu hancur, ayah, ibu, adik-adiknya tertimbun reruntuhan. ***

 Seorang anak balita meminta mandi dengan air hangat. Ia merengek, dibiarkan, didiamkan. Sang ibu bukannya memasakan air, tapi justru mencari kayu. Si balita jadi tahu, ternyata ibu mencari kayu untuk menyalakan tungku. Tapi, ketika air sudah hangat, asap keluar dari panci, si balita menangis lagi. Mengapa ibunya malah mematikan api. Mengapa tidak langsung saja memandikannya di dalam panci. Tentu, itu konyol. ***

Dunia tidak dijalankan atas perintah kita. Terkadang kita senang, tertawa, tergoda, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadi sesuatu yg terasa tak adil. Tapi ada saat-saat ketika kita masih sanggup berlari kencang, dan keadaan ternyata memposisikan kita untuk tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa.

 Anak sekolah belajar dulu baru menerima ujian. Tapi hidup sebaliknya, mendapat ujian dulu baru memetik pembelajaran. Apakah bisa tanpa diuji kita mendapat pembelajaran? Bisa, tapi tak sepenuhnya. Kita bisa berkata permen ini warnanya merah, terbuat dari susu dan rasa strawberi. Mungkin manis dan sedikit asam. Tapi bagaimana kita tahu sebelum mencobanya? Kita butuh jeda waktu. Agar perjalanan kita terasa lebih berharga.

Bacaan selanjutnya

 Tugas                                                                                                                   Perpisahan

No comments:

Post a Comment