Kisah si pembawa api - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, March 19, 2018

Kisah si pembawa api

Ada orang-orang yg kuat, yg mampu mengemudi takdirnya sendiri. Ada juga orang yg mungkin disebut lemah, ia sama dengan mereka - orang-orang yg mengendalikan takdirnya, sama-sama pemimpi(n). Tapi orang-orang jenis kedua ini seringkali merelakan mimpi-mimpi individunya demi tanggung jawab yg diberikan padanya. Ia merelakan mimpi, ia juga melakukan sesuatu yg mungkin saja tak ia senangi. Merelakan saja sudah berat, apalagi melakukan (kebaikan) yg ia tak menyenanginya. Hanya orang lemah yg mau tersiksa seperti itu, bukan?_Jon Q_
Alkisah ada sebuah pemukiman di suatu hutan yg gelap. Mereka hanya beraktivitas saat siang saja. Ketika senja datang, mereka bersiap sembunyi dan menyambut petang dalam diam. Begitu terus hingga generasi demi generasi terlewati. Lalu lahirlah seorang bayi, ia tumbuh agak nakal, suka menyendiri dan bereksperimen dengan kayu dan batu. Dari mainannya itu, ia telah dewasa, ia membuatkan cahaya dari kayu yg terbakar. Orang-orang awalnya curiga, menganggapnya penyihir, tapi bergulirnya waktu para sesepuh desa mengambil cara menyalakan api dari kayu. Para sesepuh mengusir pemuda si pembuat api. Agar mereka tetap diagungkan penduduk, mereka membuatkan patung si pemuda. Patung itu di letakan di pusat desa, tempat para sesepuh menyalakan api untuk menghangatkan dan menerangi desa. Waktu bergulir. Generasi berganti. Dunia - manusia-manusia, meninggalkan alam. Tapi alam tetap ada seperti semula. Orang-orang baru tanpa pemahaman, menyembah patung itu. Memberikan doa-doa, sesaji, memandikan, tapi kebaikan si pembawa api tak pernah mereka lakukan. Si pembawa api terus belajar, para penyembah puas dalam ajaran para sesepuh yg belum tentu benar. Si pemuda mencari kebenaran, bahkan sampai ia terusir dari kampung halaman. Para penyembah merasa sudah benar, hanya dengan menyembah patung dan berdoa di depannya. "Kalau kau sudah tak mengharapkan pahala atau surga atau apapun dari Tuhan, beri alasan yg logis, Jon, mengapa kau sholat?" tanya Beth, masih tentang filsafat. "Aku memilih 'jalan' ini. Maka konsekuensinya aku harus menepati janji. Aku harus sholat, puasa, dan lain-lain yg tak seharusnya dipamerkan," kata Jon. "Orang yg tak menepati janji, maka ia termasuk ingkar. Ia pendusta, pecundang, atau bodoh," "Kok bodoh?" "Karena ia tak tahu dengan janji yg harus ia tepati," kata Jon lagi. "Bodoh itu tak selalu berarti tak tahu apa-apa, tapi bisa jadi ketiadaan keinginan untuk mencari kebenaran," "Menurutmu, akan ada lagi nggak orang macam kau yg terlahir di sini?" Beth meledek. "Dunia ini kacau. Tapi alam selalu melahirkan orang-orang yg berpasangan. Ada perusak, ada yg memperbaiki. Dunia akan selalu meninggalkan alam, ia silih berganti, datang dan hilang. Tapi alam tak pernah pergi, karena ia yg menciptakan para pemain untuk hidup di dalamnya,"

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Diriku yang sebelah kiri Menyelam

No comments:

Post a Comment