Matematika kehidupan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, March 31, 2018

Matematika kehidupan

Di dalam biji, sudah ada pohon. Ruang melengkung dengan besaran menyesuaikan kecepatan waktu. Energi kekal secara akal, tak hilang namun berubah. 3 + 3 = 6 itu pasti, tapi tak harus 3 + 3 agar menjadi 6._Jon Q_
Orang seperti si Jon tak kuat merasa sendirian. Ia pasti sedang banyak kerjaan, entah itu 'hanya' duduk memandangi daun yg ia pegang, atau pekerjaan kantornya. Ia senang dalam kesibukan, tapi selalu belajar agar tetap tenang di dalam kesibukannya. Sore itu Beth main ke rumahnya. Basa-basi sebentar, lalu langsung menyampaikan tujuan kenapa ia main sore hari itu. "Lu nonton berita metromini yg ditabrak kereta gak?" tanya Beth. "Nonton, sekilas. Kenapa?" tanya Jon balik.

"Ehehe," Beth nyengir. Tanda akan memberi pertanyaan yg 'disukai' si Jon. "Lu punya penjelasan gak, kenapa yg meninggal belasan orang itu dan supirnya? Secara logika matematika tentunya. Bukan kepastian, tapi spekulasi," Jon terdiam. Hening sejenak. "Sebentar, ta ambil kertas sama pulpen dulu," Jon masuk rumahnya. Mereka mengobrol di teras. Beberapa menit, sambil membawa dua cangkir kopi, Jon duduk lagi. "Coba kita 'hitung' pakai (teori) Butterfly Effect dulu," Jon menuliskannya di kertas yg ia bawa. "Semisal benar, misalnya ia tak jadi mendahului, katakanlah mobil, hitungan waktu akan mundur beberapa menit, dan sampai pada palang pintu perlintasan, ia tak sempat masuk. Tapi, itu hanya mengenai satu orang, yaitu supir. Dan tak terbukti, hanya supir saja yg meninggal, tetapi juga belasan penumpang. Pertanyaan selanjutnya adalah, jika yg salah hanya supir, mengapa belasan penumpangnya ikut menanggung, katakanlah, pertanggungjawaban, yaitu meninggal. Secara logika matematika, peluang, mungkin ada semacam kesamaan sesuatu dalam diri belasan orang itu, sampai mereka yg meninggal, bukan beberapa orang yg selamat di dalamnya. Ini di luar posisi duduk, bisa jadi ini juga berpengaruh," Jon menjelaskan, belagu. Tapi dasar Beth bego, dia serius benar mendengarkan celoteh sableng si Jon. "Tentu ini takdir, tapi tak salah jika akal kita manfaatkan untuk mempelajarinya," Beth mengangguk. "Kita pakai pendekatan psikologis," lanjut Jon, menuliskan di atas kertasnya. "Katakanlah si supir terburu-buru ketika mendahului mobil, yg kita spekulasikan tadi. Kita ambil konsep itu, keterburu-buruan. Ada nasehat, terburu-buru adalah sifat setan. Tak penting tentang setan ini, tapi dalam keterburu-buruan, ada keinginan yg besar. Masuk ke penjelasan fisika," "Mending tadi gak usah nanya aja ya? Pusying, hehe," ucap Beth. "Haha," Jon tertawa. "Lanjut gak?" "Lanjut, lanjut," jawab Beth, sambil menikmati kopinya. "Dalam fisika, semakin cepat gerak sebuah benda, akan semakin menyempitkan ruang. Katakanlah kita ini sedang berjalan di ruang dunia, akan ke ruang akherat. Jika dihubungkan dengan keterburu-buruan tadi, keinginan kita yg serba cepat menjadikan ruang dunia kita semakin dekat dengan ruang akherat. Tapi, sekali lagi, ini spekulasi, ya," "Itu mengapa lu hidup santai benar? Karena lu gak mau cepet mati?" komentar Beth. "Haha," Jon tertawa lagi. "Enggak lah, kalau takdir sudah berkata, siapa yg bisa menahannya?" "Tapi, ini misalnya ya, Jon, jika mereka tak melakukan keterburu-buruan itu, apakah mungkin mereka selamat?" "Mungkin, mungkin," jawab Jon. "Bahkan bukan hanya itu, ini masih secara matematika ya, mereka bisa menjadi penonton berita itu." "Lu tau kenapa orang islam dianjurkan mengucapkan salam kalau memasuki rumah, meski tak ada orangnya?" tanya Jon, memancing logika Beth. "Biar setannya pergi? Hehe," jawab Beth sekenanya. "Itu tentang hukum kekekalan energi." Jon melanjutkan lagi. "Energi salam itu, keselamatan, menyelimuti rumah itu. Mungkin itu alasan mengapa kita di sunahkan memberi salam ketika saling bertemu. Em, lu masih ingat tukang becak yg lagi santai mengayuh, tiba-tiba di tabrak bis?" "Oh! Yg di pantura itu ya? Iya Jon, itu kan dia gak lagi buru-buru, kenapa, kalau pakai penjelasan tadi, ruang dunianya menyempit?" kata Beth. "Hukum kekekalan energi, tarik menarik, kemungkinan ia mengucapkan serapah tentang kematiannya beberapa waktu sebelum kejadian," jelas Jon. "Tapi.. Eh, itu mengapa ada yg bilang ucapan adalah doa ya? Maksudnya adalah energi?" kata Beth. "Secara fisika," "Berarti kita mesti benar-benar jaga mulut dan pikiran ya? Energi kan kekal?" "Secara akal, iya," ucap Jon. "Tapi energi bisa berubah. Itu fungsi dzikir, mengubah energi negatif yg telah terkumpul meliputi kita menjadi energi positif," "Itu maksud kata Tuhan : 'Alaa bidzikrillahi tathma'inul qulb, Jon? Dzikir menenangkan jiwa? Berarti termasuk menghilangkan sifat keterburu-buruan tadi dong?" Yg ditanya cuma tersenyum. *kampret* "Ini orang bikin juwet aja kalau pemahaman udah mulai masuk? Kampret." Beth misuh-misuh.

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

1+1=1 Butterfly effect II

No comments:

Post a Comment