Mengarang, mengada-ada, mendusta - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, March 14, 2018

Mengarang, mengada-ada, mendusta

Kepedihan menyegarkan jiwa. Ilmu menerangi jalan. Iman melindungimu dari bahaya, dengan jalan yg diterangi pemahaman : ilmu. Seperti Ibrahim yg tetap aman di dalam kobaran api. Yunus yg tetap bertahan di dalam perut ikan. Yusuf yg terjaga di dalam sumur kematian. Mereka bukan orang yg terlahir cerdas, karena ilmu itu didapatkan. Batang pohon tak bisa menumbuhkan buah. Bunga yg bisa melakukannya._Jon Q_
Jika kebaikan disembunyikan dengan alasan tak ingin pamer atau membanggakan diri, maka bagaimana dengan keburukan yg dipertontonkan seakan itu adalah kebaikan? Tidakkah menjadi pemahaman juga, bahwa merendahkan hati secara berlebihan adalah kesombongan? Apa yg membuat begitu banyak orang tak mau saling berbagi? Kau belajar, aku belajar, mengapa tak saling berbagi apa yg kita pelajari? Jangan menjelekan orang lain hanya karena kita tak mampu menandinginya. Itu adalah kebodohan yg buruk. Mungkin kita bisa belajar cepat tentang kebijaksanaan hidup. Dari buku, diskusi youtube, atau merenung sendiri. Tapi tahukah kita, kesombongan yg bersembunyi di balik luasnya pengetahuan yg kita dapatkan secara terburu-buru? Kepedihan menyegarkan jiwa. Jika hidupmu terasa kosong, maka dekatilah mereka yg terlahir tak seberuntung kita. Lalu renungkanlah. Ilmu menerangi jalan. Bukan rangkaian kata-kata yg kita dapatkan dari buku-buku atau training-training motivasi, melainkan pemahaman yg kita dapatkan dari pedihnya hidup. Kita tak bisa mendadak bijak hanya dengan membaca ratusan bahkan ribuan buku. Apalagi pelatihan-pelatihan motivasi. Siapa yg memotivasi Nabi atau para wali sembilan sampai mereka menjadi besar? Tuhan? Darimana kita tahu? Jangan-jangan hanya prasangka untuk melindungi mereka dari garis takdir yg tragis di masa muda. Dan iman melindungi kita. Iman yg duduk bersama ilmu, pemahaman, bukan iman yg sekedarnya. Seperti orang yg bermimpi makan, sekenyang apapun nyatanya ia tetap lapar. Jangan percaya orang yg begitu cerdas di dekatmu. Bisa jadi ia pandai mengarang, ia Dajjal yg pura-pura sopan, bisa jadi ia pendusta, orang yg pandai mengada-ada. A-unzila alaihi min baynina, mengapa qur'an (pemahaman, ilmu) diturunkan padanya (nabi) di antara kita? Bukankah kita orang yg normal lebih layak mendapatkannya? Kami kaya, kami terhormat di masyarakat, tak seperti dia (Muhammad) yg miskin, pendusta, penyihir, penyair tukang mengarang, tukang mengada-ada. Belajar tak mau, ketika ada orang yg telah paham, mencemooh. Itu kita.

#konsultasipsikisgratis #konsultasi #psikis #gratis

Bacaan selanjutnya

Jon sang penyesat Setan sahabat orang-orang shalih

No comments:

Post a Comment