Peradaban jereng - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, March 12, 2018

Peradaban jereng

Yg pasti kiamat bukan semakin menjauh. Lihat manusia-manusia yg tak seharusnya terlahir dulu. Hidup mereka hanya menambah penuhnya bumi. Mengeksploitasi makanan, tanpa mampu berpikir matang. Orang-orang yg hidup menutup mata, tapi yakin bahwa mereka sedang melihat. Menatap mantap khayalan, lalu memaksakannya pada banyak orang._Jon Q_ Konseling Jumat itu membahas tentang ayat Tuhan, Az Zumar, 23. Tentang kehendak, tentang petunjuk, dan ketersesatan. Pemahaman baru Dia turunkan tentang manusia yg saling menganggap benar di dalam kegelapan. Mereka mungkin bercermin, tapi tanpa cahaya terang. Manusia, bejat ataupun taat, mereka sama-sama menganggap dekat pada Tuhannya. Merasa hidupnya telah berada di dalam petunjuk yg benar, dan mereka yg berbeda sedang dalam ketersesatan. Manusia bercermin, tapi dengan kegelapan yg menyelimutinya. "Anda memiliki ilmu, pemahaman, mengapa tak disampaikan pada banyak orang?" protes klien. Sang Konselor hanya tersenyum. "Jika hidup dalam pemahaman, ilmu, itu menenangkan, maka mengapa anda tak mencerahkan banyak orang?" "Bahkan, seekor kucing pun akan mendekat jika ia mencium makanan dari majikannya," sang konselor berfilsafat. "Tuhan memberi petunjuk pada ia yg dikehendaki, dan pada ia yg Dia kehendaki tersesat, tak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Ayat ini bukan tentang Tuhan, tapi tentang manusia. Bukan kehendak Tuhan, tapi kehendak tiap manusia. Tanpa kehendak, tekad yg kuat, diberikan mutiara pun manusia akan menolak," Tapi memang manusia kini cenderung jereng pandangan akal dan hatinya. Eror tak mampu menatap mana yg berharga dan mana yg akan musnah. Manusia yg tak memiliki pemahaman, akan berakhir hanya menjadi tulang belulang. Mereka yg paham, akan kekal. Karena dalam ayat itu ada makna tentang kehendak diri. Bukan kehendak Tuhan juga bukan kehendak manusia sebagai makhluk. Tapi kehendak diri yg kekal.

Bacaan selanjutnya

Hikayat orang-orang gila Pemuda gila dan .............

No comments:

Post a Comment