Perdebatan yg seperti dulu - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, March 13, 2018

Perdebatan yg seperti dulu

Aku tahu Engkau merindukan rukuk-rukuk yg mesra. Engkau merindukan sujud-sujudku yg terdalam. Ketika Engkau dapat benar-benar mendekap ruhku, dan aku tertidur dalam pelukan-Mu. Tapi, apakah tak bisa itu ku lakukan lagi tanpa datangnya rasa sakit yg begitu menyiksa? Tak bisakah hikmah itu ku dapatkan tanpa ada apa-apa, tanpa rasa dera yg membekaskan luka?_Jon Q_ Perdebatan jiwa ketika Jon masih muda dulu. Begitu-begitu Jon pernah muda. Saat ia jatuh cinta, dan sang perempuan pun sama. Mereka berdua mendapatkan kedamaian jiwa pada akhirnya. Perbedaannya, Jon mendapatkan ketenangan itu sekalipun masih di dunia. Sedang sang cinta, damai di alam berbeda. "Aku tahu, aku tahu, ketika Engkau telah berkehendak, tak satu pun kekuasaan mampu menghalangi-Mu. Tak satu pun manusia suci mampu menghalau 'tangan-Mu'. Tapi mengapa...?" "Apa yg kau sesalkan? Kau ini bagaimana, Jon, munafik benar. Dirimu sendiri boleh mendapatkan kedamaian, mengapa tidak dengan orang lain?" "Aku rela, aku terima, jika tak harus bersamanya. Tapi tak bisakah Engkau tetap memberinya nikmat di dunia? Aku tersiksa melihatnya sakit," "Benar-benar pecundang. Kau berani untuk hidup tapi tak berani menghadapi rasa sakit, Jon? Bagaimana cara berpikirmu itu? Kau mau api, tapi tak mau rasa panasnya. Tragis," "Apapun akan aku lakukan untuk-Mu, akan aku hukum hasratku, akan aku jatuhkan angan-anganku, akan aku tampar harga diriku, dan akan aku injak semua hak hidupku. Tapi tetapkanlah ia. Aku mohon. Biarkan ia bahagia meski tak bersamaku," "Lihat, kau bicara sendiri, kau berkata kau ingin dia bahagia. Sekarang dia bersama-Ku, dia telah berada dalam kebahagiaan yg takkan terganti derita. Dia ada di sisi-Ku, dan Aku yg kini mencintainya. Mengapa kau merasa berat? Kau mengira cintamu lebih berharga dari cinta-Ku?" Lalu ia lemas, tersujud menangis merasa begitu sombong. Tak ada yg mampu manusia kuasai di dunia ini tanpa kehendak-Nya. Manusia tak akan pernah menjadi penguasa semesta. Tak akan pernah sebesar semesta. Seterang cahaya. Seindah pelangi. Setangguh gunung-gunung. Sekuat petir. Hanya kesombongan manusia yg merasa mampu begitu.

Bacaan selanjutnya

Menyalahkan Tuhan, berani? Sang pencari Tuhan

No comments:

Post a Comment