Prinsip-prinsip pendidikan (1) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, March 30, 2018

Prinsip-prinsip pendidikan (1)

Prinsip-prinsip pendidikan (1)

Ya ayyuhaladzina amanu athi'ullah wa athi'urasul wa ulil amri minkum. (Qur'an)

Ing ngarso sung tuladha
Ing madyo mangun karso
Tut wuri handayani
(Ki Hajar Dewantara)

Jangan paksa ikan untuk terbang. Jangan paksa burung untuk menyelam. Jangan paksa kambing untuk memanjat pohon. Tapi didiklah mereka agar mampu melakukan itu.

Ada perbedaan antara pendidikan, mendidik, mengajar, dan sekedar melatih. Pendidikan adalah langkah sistematis, terukur, detail, mendasar dan terarah. Mendidik, adalah proses menghaluskan perilaku manusia. Dari mulai sifat-sifat naluriah hewani, menjadi manusia dewasa. Mengajar, hanya sebatas memindahkan pengetahuan, transfer knowledge, proses penyampaian dari tidak tahu menjadi tahu. Melatih, adalah proses pembiasaan, yg hanya satu aspek kecil pada pendidikan, dan bahkan bukan hanya dilakukan pada manusia, melainkan binatang pun bisa dilatih sesuatu.

Pendidikan, tidak bisa dilakukan sembarang orang. Hanya mereka yg telah menata dirinya, berilmu, dan tak henti mencari pengetahuan dan pengalaman baru. Mendidik, bisa dilakukan semua orang. Tak harus memiliki gelar terpelajar, tak harus memiliki sistematika tujuan apa saja dan untuk apa proses mendidik itu dilakukan. Mengajar, di bawah mendidik, bisa dilakukan mesin, google misalnya. Jaman now manusia bisa diajar oleh mesin, bisa mengaji lewat internet, tapi tak akan mendapatkan nuansa chemistry antara seorang guru pada siswanya, mursyid pada muridnya, kyai pada santrinya. Melatih, ini bahkan lebih rendah lagi. Lebih rendah, tapi bukan berarti jelek. Karena semua itu adalah bagian integral (kesatuan) dari upaya pendidikan.

Pendidikan paling primordial adalah yg dilakukan Allah pada Adam. Ada dasarnya, yaitu qur'an. Ada tujuannya, yaitu khalifah fil ardli. Ada sarananya, yaitu akal. Ada tesnya, yaitu saat diminta menyebutkan banyak hal di hadapan malaikat.

Maka proses pendidikan secara primordial (utama) adalah untuk ketaatan pada Tuhan dan manusia pilihan, yaitu Nabi dan Rasul. Manusia modern menyebutnya primus interpares, insan kamil, manusia sempurna. Kita tak bisa mencapai derajat itu, maka, atho'illah wa athi'ur rasul wa ulil amri. Taatlah pada Allah dan rasul adalah wajib, dan menaati pemimpin yg taat pada Allah dan rasul sama wajibnya. Menaati pemimpin yg tak berilmu, tak taat pada Allah dan rasul, tak wajib.

Ki Hajar Dewantara menyederhanakan lebih mudah. Pemimpin itu bukan pemimpin di segala sisi. Ketika di depan ia memimpin, ketika di tengah ia mengikuti yang paling berilmu dan yg berilmu itulah yg memimpin di sisi itu. Depan, tengah, belakang, dalam pendidikan hanya persoalan siapa yg paling berilmu, maka ia lah yg memimpin, tanpa menguasai. Memimpin itu mendidik, menguasai itu memaksa.

Dan dalam mendidik, tak ada unsur pemaksaan. Seorang anak yg pintar berlari jangan dipaksa untuk pintar juga berenang. Yg pinter matematika, jangan dipaksa pintar sejarah juga, dan sebagainya. Ikan jangan dipaksa terbang, burung jangan dipaksa menyelam, kambing jangan dipaksa memanjat pohon. Allah adil, manusia lah yg merusak keadilan tersebut.

No comments:

Post a Comment