Satu petualangan yang menuju akhir - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, March 1, 2018

Satu petualangan yang menuju akhir

Aku tak tahu kejutan apa yg menanti di samudera depan sana. Aku tak tahu kuat atau lemah perahu kita yg akan menantang badai di sana. Apakah aku kan selalu mampu menahkodai itu, atau aku akan lelah dan lupa tentang engkau yg ku bawa di dalamnya. Aku nahkoda, dan engkaulah yg menjaga kesadaranku mengendara. Entah akan terjadi apa di sana, sampai ini kita syukuri dulu saja._Jon Q_

Ketika seorang hamba bertanya dimanakah Tuhannya, ia tak tahu bahwa Tuhan pun sama. Ia mencari dan memanggil namanya.

"Tuhan, di manakah Engkau?" tanya seorang hamba.

Tuhan menjawab tanpa suara. "Kau tak tahu Aku juga mencarimu. Di manakah engkau jika tak melihat-Ku? Apakah kau tak berada di dekat-Ku?

Kau tak curiga yg kau sembah-sembah itu bukan Aku?"

 Pencarian itu tak akan berakhir. Dan mungkin pencarian itu adalah isyarat. Itu menurun, menjadi perumpamaan apa saja, termasuk cinta.

Tiap manusia melakukan pencarian, perjalanan. Sebagian tersesat dan tak mau menelusuri kembali. Sebagian lagi tersesat dari jalan demi jalan tapi tak pernah mau kalah oleh rasa lelah. Manusia lemah memilih untuk bersembunyi di balik rasa takutnya. Takut gagal, dipermalukan, terhina - oleh cinta. Tapi mereka yg kuat mempersiapkan diri untuk berkali-kali jatuh, tetap tertawa, dan seakan tak terjadi apa-apa setelah kejatuhannya yg berkali-kali itu, ia tegap melanjutkan jalan. Tak ada basa-basi untuk tangisan. Seperti langit yg menangis dengan hujan, ia menumbuhkan tanaman. Tangisan seorang pencari hanya memperlambat langkahnya mencapai tujuan.

Tiap belahan jiwa mencari, bertanya dalam kegelapan.

 Di manakah engkau?

Mengapa aku tak melihatmu?

Dan ketika ku anggap aku melihatmu, bisa saja ternyata itu bukan engkau, belahan jiwaku yg tepat.

Apakah jalanku terlalu lambat, sampai aku terburu-buru bertanya di mana engkau, sedang engkau masih jauh di depan sana?

 Apakah aku tak melihatmu, karena aku tak melihat sisi-sisiku, aku terhanyut menatapi langit yg biru tapi jauh?

Seperti perahu yg aku bersiap menyambutmu di bibir pintu. Tak akan berlayar tenang jika yg memasukinya adalah ia yg melihat bentuk perahu daripada melihat nahkodanya. Ombak yg tenang pun akan terasa berat. Badai akan seperti kiamat. Maka bersyukurlah ia yg dijauhkan dari belahan jiwa-jiwa yg palsu. Yg lebih mementingkan ujung dan pangkal perahu, merasa seperti tuan putri yg layak bersinggasana di perahu besar dan megah. Siapa yg akan peduli ketika kalian berada di dalamnya? Tuan puteri atau wanita biasa, jika sang nahkoda pandai menghias nuansa itu rasanya lebih dari segalanya.

Sang nahkoda yg menjaga kesadarannya karena dia yg ia jaga. Tak berhenti jatuh cinta tiap hari meski pada seseorang yg sama. Jatuh cinta tanpa keinginan, mencintai tanpa kecemasan, karena ikatan kita bukan tentang kekuasaan tapi saling membutuhkan. Tahap ketika manusia telah selesai di satu petualangan. Akhir perjalanan yg saling mempertemukan, menyatukan. Petualangan mencari belahan jiwa yg terpisahkan. Sedang cinta tetap menjadi rasa petualangan meski jiwa telah dipersatukan.

#cinta         #teologi          #salik #pencariantuhan

Bacaan selanjutnya

Bukan perlombaan terakhir                                                                     Wujud zat kelima

No comments:

Post a Comment