Seseorang yg datang dari kedamaian - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, March 18, 2018

Seseorang yg datang dari kedamaian

Jika kau menganggap Allah hanyalah Tuhan, maka takbir yg kau ucapkan bohong. Ia maha besar. Ia bukan hanya Tuhan, tapi juga segala sesuatu yg ada. Ia rasa kecewamu, Ia juga kegembiraanmu. Ia rasa senangmu, Ia juga rasa sakit kehilanganmu. Ia angin, matahari, bintang, langit, semesta, tapi jangan kau sembah itu. Sembahlah Allah._Jon Q_
Malam minggu. Hujan kecil, Jon tak jadi berangkat mengaji shorof. Lagi santai, Bon, Beth, dan temannya, Rez, main ke rumahnya. Jon berkenalan, menggenggam tangan Rez yg dingin.

 "Ini teman gue, Jon, Rez," Beth mengenalkan.

"Lima tahun baru ketemu lagi," Jon cuma tersenyum dan mengangguk.

 "Ini orang lebih menyebalkan dari elu, Jon," kata Bon menunjuk Rez. "Dia mau diskusi sama elu,"

 "Hehe," Jon tertawa kecil.

 "Tuh Rez, ngomong sebebas-bebasnya," kata Beth. "Di dunia ini, orang yg sama brengseknya mirip elu, cuma dia orangnya yg gue kenal,"

 "Buat apa kita beragama? Apa enaknya berislam?" Rez mulai bicara. Nada suaranya terdengar sunyi di telinga si Jon. "Ibarat baju? Itu kan ibarat, badan gue tetap tertutup," Jon mendengarkan.

 "Apa enaknya berislam? Gue mesti sholat. Gue gak takut dosa, kalau Tuhan mau melempar gue ke neraka, memang kenapa? Gue pikir gak sholat bukan urusan dosa atau neraka, tapi tentang komitmen janji. Gue berislam, jadi gue mesti sholat. Cuma pecundang yg senang tak menepati janji. Sholat menenangkan hati? Hati gue udah tenang, karena gue udah gak punya hasrat apapun di hati gue. Kalau beragama, berbuat baik dapat pahala, nanti masuk surga? Gue gak harus ada pahala atau surga biar bisa berbuat baik. Gak butuh pahala atau surga. Kenapa gue mesti beragama? Gue tenang, suka berbuat baik, tak ingin (berhasrat) apa-apa, gue sehat, tak menyalahkan siapa-siapa kalau ujian hidup datang, hati gue penuh cinta, gue kerja keras buat hidup, gue juga mendekati perempuan buat gue nikahi. Kenapa harus beragama? Takut diejek orang kalau tak beragama? Lebih baik mana, orang tak beragama atau orang beragama tapi senang mengejek? Takut diasingkan orang karena melawan budaya? Yg lain sholat, gue enggak? Kalau ditanya, kalau yg lain sholat elu ngapain? Gue? Menikmati hidup. Gue puasa, tapi tak diniati puasa. Ikut sahur, tak tidur setelah makan. Tapi gak diniati puasa. Kenapa? Gak dapat pahala? Gue gak butuh. Saat puasa gue ngapain? Puasa ucapan, puasa pikiran buruk, puasa hati, baca buku, menikmati musik, tidur, menikmati hidup tanpa makan, mengotori pikiran dan hati. Tak harus beragama kan? Intinya, badan gue sehat, gue kerja (gak nganggur), senang berbuat baik, suka merenung, dan hati gue damai. Kenapa mesti beragama? Berislam?" Rez berhenti bicara.

 Tangan Bon terkepal, mulutnya berbisik lirih, "A-n-j-*-n-g," Jon tersenyum. Menyalakan rokoknya. Tiba-tiba Rez ijin pulang, sendirian. Meninggalkan Bon dan Beth di depan Jon. Hening beberapa saat.

 "Lu punya nomor telpon rumah Rez, Beth?" tanya Jon.

 "Em, eng-, enggak. Eh, tapi gue punya nomer telepon adiknya. Gak tahu masih aktif atau engga,"

 "Coba lu hubungi, pura-pura aja Rez gimana kabarnya," kata Jon. Beth menelepon. Nomor masih aktif. Diangkat. Tapi setelah tanya kabar Rez, rokok Beth terjatuh dari mulutnya. "Kenapa lu?" tanya Bon.

 "Rez.. Rez.. Udah meninggal dua tahun lalu," lirih Beth. "Anj*ng!" Bon tersentak. Tapi Jon tersenyum puas.

 "Jadi, kalian udah tahu ya, siapa tadi yg datang?" kata Jon. "Dia datang dari kedamaian, mengajari kalian sesuatu yg sangat penting. Lu pikir Tuhan sesederhana apa kata ustadz? Dia tadi datang, seperti tiap saat, Ia di dekat kita, tapi kita tak melihat."

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Pencari Aku bukan yang ini

No comments:

Post a Comment