Berputar menuju Tuhan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, April 26, 2018

Berputar menuju Tuhan

(Takbiratul ikram) Allahu akbar... Tuhan, aku kembali. Meski kembaliku tak berpengaruh pada keberadaan-Mu, aku datang dengan patuh. Di manakah jiwa yg tak mau kembali pada-Mu? Adakah ia yg enggan kembali kepada-Mu, Tuhan?_Jon Q_
Kebenaran dalam pemahaman manusia terasa aneh ketika mewujud. Dan ketika seseorang semakin paham, ia sadar yg ia pahami sebagai kebenaran bukanlah kebenaran. Manusia, dengan golongan, kelompoknya saling merasa paling benar. Jika Tuhan mampu tertawa, Ia akan melakukannya. Ia meminta manusia untuk berlomba, bukan hanya 'melakukan' kebaikan, tetapi juga 'menjadi' kebaikan. Fastabiq al khoirot, wa la fastabiq al haq.

Jika alfatihah adalah pembuka, maka setelah takbir seorang hamba harus mengetuk, salam, menyapa Tuhan dalam sholatnya. Benar, pintu-Nya selalu terbuka. Ia menerima ampun, bahkan semisal iblis bertobat. Tapi, adakah seorang tamu yg memasuki rumah tanpa sapaan? Manusia, adalah tamu itu. Ia diperjalankan, berputar seperti segala sesuatu yg hidup atau pun mati di dunia ini. Bulan, bintang, semesta, jiwa, ia yg meletakan batu di tengah perjalanan akan menjatuhkan dirinya sendiri. Manusia akan menemui apa yg ia lakukan sebelum ini. Dan 'pertemuan dengan-Nya', dalam ibadah yg diawali takbir itu, adalah 'satu putaran'. "Apakah lelahku ini telah memenuhi syarat bertemu dengan-Mu?" kata seorang hamba. "Belum," jawab-Nya dari dalam rumah. "Tapi sebentar lagi ayat pembuka-Mu ku baca, apakah aku harus menunggu di luar sana?" "Ya, kau masih membawa hijab. Jangan kau kira hanya kau yg tak bisa melihat-Ku, karena Aku pun tak mampu melihatmu karena hijab itu. Adakah sepasang kekasih yg tak rindu saling bertemu?" Hamba itu pun menangis.

Bacaan selanjutnya

Saat Jon Quixote Menangis Pure Loving

No comments:

Post a Comment