Duduklah, dan dengarkan aku - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, April 30, 2018

Duduklah, dan dengarkan aku

Terkadang lebih baik terus terpenjara dalam ketersesatan. Tak ada yg lebih membahagiakan, dari seseorang yg telah tersesat mencari Tuhannya sepanjang hidup, lalu pada akhirnya ia akan bertemu. Karena tersesat atau telah berada dalam kebenaran, keduanya akan kembali pada Tuhan. Bagaimana kau akan merindukan-Nya, jika kau selalu bersama-Nya? Jangan-jangan, kerinduanmu itu palsu._Jon Q_ 




Anshithu wa asma'u. Duduklah, dan dengarkan. Kata khotib sholat idul adha, yg ternyata kakaknya si Jon. Beliau berkhotbah tentang sa'i, lari kecil antara bukit shofa dan marwah, dalam ritual haji. Ia menjelaskan tentang makna filosofis sa'i. 

Duduklah, dan dengarkan. 'Duduk' seringkali dimaknai dengan menguasai diri. Ada nasehat (hadits?), jika kau marah, maka duduklah. Dan ini yg digunakan para psikeater atau konselor untuk 'menguasai' pasiennya. Duduk, kursi, berkonotasi kekuasaan. Maka ketika bilal berkata sebelum khotib naik mimbar, 'anshitu wa asma'u', duduklah, kuasai dirimu, tetaplah di sini, jangan biarkan pikiranmu melayang-layang, atau, khusyu'-lah. 

Lalu, wa asma'u, dengarkan baik-baik. Bagaimana seseorang akan mendengarkan dengan baik, jika hanya telinganya saja yg terbuka? Telinga tak berkelopak seperti mata, karena hati memang sebaiknya selalu terbuka. Bahwa 'hati' (lever) adalah penetral racun, itu benar. Biarkan semua masuk ke sana. Yg baik akan tinggal, yg buruk akan hilang. Dua telinga, satu untuk mendengar dari dalam diri, satu untuk luar diri. Seseorang akan menjadi pendengar yg baik, jika ia telah mampu mendengar dirinya dengan baik. 

Dikisahkan ibunda Ismail mencari air. Ia berlari-lari kecil, dari ilusi satu menuju ilusi lainnya. Fatamorgana air, dari Shafa ke Marwah, dan sebaliknya. Bahwa orang-orang 'gila', yg lebih dekat jalannya menuju Tuhan. Siti Hajar mungkin paham, yg didatangi adalah ilusi, tapi ia tetap mendatangi. Barangkali itu tentang 'kegilaan', sudah tahu akan gagal, tapi tetap saja berjuang. Atau bahasa si Jon, berjuang untuk kekosongan. Life for nothing. Karena seseorang hidup, karena ia memang harus hidup. Hanya orang mati yg tak mampu melakukan perjuangan. 

Awalnya, Siti Sarah, istri pertama Ibrahim agak memaksa agar suaminya menikah lagi. Tapi Ibrahim enggan, sampai akhirnya Siti Hajar yg dipilihkan Siti Sarah menjadi takdir mereka selanjutnya. Ibrahim mendapat wahyu, agar mengirimkan istri kedua dan anak bayinya, Ismail, ke padang tandus bernama Bakkah (tanah yg diberkahi). Ibu dan bayi itu ditinggal, sedang Ibrahim kembali pulang. 

Lalu dua malaikat berwujud manusia datang ke rumah Ibrahim. Mengabarkan istrinya yg telah berumur, Siti Sarah, akan melahirkan anak laki-laki bernama Ishak - Terbahak. Karena saat Siti Sarah mendapat kabar itu, ia menjerit (tertawa?) tak percaya dengan kabar itu. Sampai akhirnya dua tamu itu menegaskan dengan ayat Tuhan. Kabar kedua, adalah akan diluluhlantakan kaum nabi Luth. Kehancuran yg sehancur-hancurnya. 

Di Bakkah, persediaan makan-minum Hajar dan Ismail habis. Hajar berpikir keras, bagaimana agar air dan makanan tak harus selalu mencari, tapi tersedia. Di balik kisah Sa'i, di sana ada perjuangan betapa 'keras kepala' ibu Ismail itu hingga ia menciptakan perkebunan kecil sebagai persediaan hidup mereka. 'Hajar', berarti batu, Siti, berarti tanah. Semangat hidup yg sekeras batu, selembut tanah. 

Ibrahim memang manusia pilihan. Ujian hidupnya selalu tak masuk akal. Ketauhidan belajar dari benda-benda langit, menghancurkan berhala, dibakar, memotong-potong burung yg kemudian hidup lagi, tak punya anak sampai usia tua, saat punya anak harus 'diasingkan', setelah remaja Tuhan mewahyukan agar anaknya dikurbankan. 

Tapi mungkin itu semua tentang cinta, yg bertahap, yg mengalir. Tangan yg tertutup tak bisa menerima apa-apa. Seperti hati, jika ia selalu terbuka, terisi cinta, maka Tuhan tak segan 'memasukinya'. 'Ibrahim', ibrah, pelajaran. Siti Hajar, tanah batu. Ismail, isma, sama', mendengar, il, El, Tuhan. Tersimpan pelajaran yg berharga dari kisah hidup mereka. 

"Kau sudah menemukan Tuhanmu?" tanya guru Jon. 

"Belum guru," kata Jon. "Aku buntu. Hanya melihat diriku sendiri, yg menjaga sebuah hijab, seperti suatu batas," 

"Apa yg dikatakan dirimu tentang hijab itu?" 

"Ia berkata, jangan lewati ini, jika kau tak ingin lenyap," 

Sang guru tersenyum. 

"Kini kau hanya perlu duduk tenang dan mendengarkan dirimu sendiri." kata sang guru. "Anshitu wa asma'u. Duduklah, dan dengarkan ia,"

No comments:

Post a Comment