Guru sufi dan anak-anak kecil - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, April 18, 2018

Guru sufi dan anak-anak kecil

Biasanya, seseorang baru merasa kehilangan setelah waktu memutuskan untuk saling berpisah. Maka manusia tak seharusnya merasa memiliki, bagaimana bisa manusia merasa kehilangan jika semua ini adalah milik Tuhan?_Jon Q_
Seorang anak kecil diperintahkan ayahnya untuk belajar pada sebuah pondok. Hanya rumah gubuk dengan 5 kamar berukuran kecil untuk tidur murid-muridnya yg rumahnya jauh. Si anak kecil sebenarnya malas, ia ingin bermain, tapi ia tak berani melawan ayahnya.

Baru pertama belajar, ia sudah melihat keanehan sang guru. Ia bicara dengan seekor tikus! "Sampaikan pada rakyatmu, jangan masuk kamar 3, ada racun dan perangkap tikus," kata guru sufi pada tikus. "Yg sabar, jam 9 malam aku kasih kalian makanan," Sebagian anak tertawa, sebagian lagi merasa aneh. Hari demi hari, memang sang guru mengajak belajar banyak hal, tapi keanehan demi keanehan terlihat. Sampai sebagian anak meremehkan, menertawakan, atau bahkan menganggapnya gila. "Aku sudah tak tahan, ayah," kata si anak kecil. "Guru itu aneh sekali, tak masuk akal, malah sebagian temanku menertawakannya dan menganggap gila. Aku ingin belajar dengan guru yg normal, yah!" rengek si anak kecil. "Belajar itu, pelan-pelan saja. Dia gurumu, bisa jadi apa yg menurut kita aneh, sebenarnya adalah karena pemahaman kita yg belum sanggup menerimanya," kata sang ayah menenangkan. Lambat laun si anak kecil bersama teman-temannya mulai menikmati belajar dengan guru sufi yg aneh itu. Mereka sudah mampu menerjemahkan peristiwa alam, dalil aqli. Mereka mampu merenungkan qur'an bahkan sampai ketenangan tertinggi. Kini mereka tahu, mana buku-buku omong kosong, dan mana yg 'dalam'. Mereka tahu mana ceramah-ceramah picisan dan mana yg menghidupkan akal dan iman. Tapi saat asyik-asyiknya menikmati belajar, sang guru memberi pengumuman. "Waktu belajar kalian denganku telah habis. Silahkan tinggalkan gubuk ini, untuk murid-muridku selanjutnya," kata sang guru. "Selamat untuk kalian yg telah mampu menghidupkan akal dan hati. Silakan pulang, sebarkan kepada orang-orang di dekatmu. Dan untuk kalian yg masih tak mampu berpikir dalam, itu akibat meremehkan dan menertawakan gurumu. Dua hal yg tak boleh seorang murid lakukan pada gurunya," Tak ada suara. Anak-anak kecil itu, meski tak berkata-kata, mereka sepaham. Innal insana lafiy khusr, mereka dikecewakan waktu. Mereka merasa rugi. Tapi, apa yg bisa mereka lakukan?

Bacaan selanjutnya

Cerita tentang keterlepasan Jon, sang guru, dan secangkir kopi

No comments:

Post a Comment