Katanya, tergesa-gesa itu setan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, April 3, 2018

Katanya, tergesa-gesa itu setan

Yg aku tahu, itu menjadi urusanku. Yg aku tak tahu, biarlah itu menjadi urusan Tuhanku._Jon Q_
Ataa amrullahi fala tasta'jiluh. Ketetapan-Nya pasti datang, maka janganlah kau tergesa-gesa. Katanya, tergesa-gesa itu sifat setan. Itu harus dihindari. Atau, harus dimiliki? Nyatanya manusia seakan lebih dekat dengan sifat-sifat setan, daripada kedekatannya pada Tuhan. Katanya, kiamat sudah dekat. Anni fa inni qorib, Tuhan juga katanya dekat, bahkan dari urat leher kita sendiri : min hablil wariydz. Tapi, kedekatan macam apa itu? Mungkin, itu yg bisa kita sebut sebagai 'urusan-Nya'. Mendekatnya kita pada-Nya adalah urusan kita, sedang kedekatan Dia pada kita adalah urusan-Nya. Katanya, jika kita berjalan pada-Nya, Dia akan berlari pada kita. Jika kita mendekat selangkah pada-Nya, Dia mendekat dua langkah pada kita. Langkah kita adalah urusan kita sendiri, sedang 'langkah-Nya' tentu menjadi urusan-Nya. Itu batas. La yukalifullah nafsan illa wus'aha, kerjakanlah yg kau tahu semampumu, wahai manusia. Selebihnya, itu urusan-Ku.

 Tapi ada, katanya, ketergesaan yg dianjurkan. Menikahkan perempuan yg sudah waktunya, membayar hutang, menguburkan jenazah, bertaubat, itu di antaranya. Tapi, memang tak semua hukum alam ini tertampung logika, ketergesaan terasa menyiksa. Seakan diburu, harus, tertekan sesuatu yg bisa jadi itu dibuat oleh pikiran kita sendiri. Kita ditakuti oleh bayangan yg pikiran kita buat sendiri. Lebih mendamaikan, jika sekalipun itu sebaiknya disegerakan, dilakukan dalam ketenangan pikiran. Apakah sama, tergesa-gesa dengan sebaiknya disegerakan?

 Katanya, memiliki pemahaman berbeda dengan banyak orang adalah 'kutukan'. Mungkin karena itu para pemikir jaman dulu senang berkelana, tak bisa menetap di satu tempat. Imam Syafi'i mengatakan, seorang ulama itu seperti sungai, ia harus mengalir, tak berada di kampung sendiri. Kurang lebih begitu. Nabi Isa, Yesus, dalam satu firmannya juga berkata : tidak ada nabi yg diterima di kampungnya sendiri. Nabi Muhammad, suka mengasingkan diri dalam fase sebelum nubuwah turun. Barangkali, menetap di tempat dengan pemikiran berbeda adalah ketersiksaan yg terasa nikmat. Karena disana, seseorang 'menghitung', memetakan, dan lebih penting lagi, menunggu. Memetakan apa yg menjadi tugasnya, dan mana yg menjadi urusan-Nya. Tentang wilayah, ruang lingkup. Katanya, kebesaran diri orang tergantung seberapa besar 'wilayah' manusia yg ia jaga. Kau menjaga banyak orang, sebesar itulah dirimu. Kau hanya memikirkan diri sendiri, sekerdil itulah dirimu. Yah, katanya, kita memang sebaiknya terus belajar.

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Mengarang, mengada-ada Setan sahabat orang sholih

No comments:

Post a Comment