Klaim memang selalu lebih mudah - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, April 22, 2018

Klaim memang selalu lebih mudah

Barangkali, kau merasakan ketenangan bukan karena memang kau telah mendapatkannya dari lelah hidup. Melainkan kau menghindar, kau mencari aman, nyaman. Penghargaan tak akan pernah didapatkan oleh seorang pecundang._Jon Q_
Yg paling memalukan barangkali adalah penganggapan. Menganggap benar, menganggap memiliki, merasa apa yg dipikirkannya telah baik. Mungkin karena itu manusia diharuskan terus belajar, bahkan mempertanyakan kemapanan berpikir yg biasa ia gunakan. Merasa senang jika dianggap benar, dan merasa kecewa jika dianggap salah. Jika manusia diharuskan terus belajar, mengapa senang jika dianggap benar? Bukankah kebenaran dalam belajar juga tak final? Ia masih dapat dipertanyakan. Jika manusia diharuskan terus belajar, mengapa takut salah dan gagal? Bukankah pembelajaran membutuhkan kesalahan agar dapat 'dinilai'? Atau jangan-jangan, kesalahan itulah kebenaran dalam pembelajaran manusia? Karena itu manusia dianggap bodoh. Tapi siapa yg menyadarinya?

Lalu seperti mahkota yg paling berharga, kebenaran diperebutkan. Dikejar, dicari, diburu, agar dapat menganggap diri telah sampai pada kebenaran. Bagaimana jika kebenaran di dunia ini adalah sebuah kesalahan? Seperti cahaya, berbagai warna pelangi dianggap sebagai pencacahan cahaya. Sedang sebenarnya adalah spektrum, dalam satu terjemahan kamus, berarti 'hantu', ilusi. Karena cahaya sendiri adalah putih, bening, hening, seperti kegelapan. Apakah cahaya adalah kegelapan? Katanya, ia yg telah mencapai-Nya akan lenyap. Bukankah hanya dalam kegelapan seseorang tak tahu dirinya sendiri? Kebodohan yg justru membuat kebenaran seakan yg diutamakan. Jika kebenaran adalah Tuhan, apakah Ia akan terkurung dalam ruang, dunia? Kebodohan, yg menjadikan manusia seakan tak boleh salah, tak boleh gagal. Maka orang-orang bodoh menganggap kesalahan dan kegagalan adalah sesuatu yg memalukan. Sedang dalam suatu pembelajaran, itu mungkin sebuah kebenaran. Ia yg tak bisa salah tak akan bertahan di dunia. Bukan karena dunia adalah tempatnya kesalahan, tapi hanya dunia yg mampu menampung rasa malu teranggap salah. Mungkin itu, yg mampu menjadikan manusia menikmatinya.

Bacaan selanjutnya

Nikmatnya mendaki Saat Jon Quixote Menangis

No comments:

Post a Comment