Memakan hati para nabi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, April 20, 2018

Memakan hati para nabi

Hidup menang dimulai dari dalam diri. Ketika mengatasnamakan perjuangan, lalu mengizinkan kebencian dan kemarahan memasuki jiwa, kau kalah. Kemarahan membakar segala sesuatu, saat tak ada lagi yg bisa ia bakar, ia akan membakar-hanguskan dirimu sendiri._Jon Q_
Kan'an, putra tiri Nuh - istrinya telah hamil sebelum dinikahi sang nabi, bukan hanya tak taat pada ayahnya. Tapi ia memang melawan, bersama sang ibu. Tuhan selalu memberi dua jalan : kesesatan dan kebenaran. Berbakti pada orang tua itu benar, tapi berbakti pada orang tua yg melawan kebenaran, adalah ketersesatan. Ia taat pada ibunya, sang ibu taat pada setan, dan setan adalah pemilik jalan kesesatan yg diridoi Tuhan. Neraka, adalah surga untuk mereka yg hidup melalui jalan ketersesatan.

Setan menuntun orang-orang sesat, sedangkan nabi, adalah seorang manusia yg menuntun orang-orang yg telah disesatkan. Nuh bukan telah gagal membina istrinya dan mendidik anaknya. Tapi memang tugas seorang nabi, tak pernah memaksakan. Itu nabi, sekelas rasul saja tak pernah memaksakan kebenaran. Bagaimana jika bukan nabi, tapi senang memaksa-maksa orang agar beriman? Kan'an seorang anak yg taat pada ibunya. Ia berlari ke 'gunung tertinggi', ia mencoba melawan ayahnya yg 'belagu' dalam pemahaman. Ia tak mau kalah dengan ayahnya yg 'sotoy' (sok tahu) tentang apa yg akan terjadi. Ilmu yg tak menyadarkan, adalah ilmu yg tertuntun setan. Mengapa ia harus taat pada ayahnya yg sok tahu? Dalam jiwa seseorang yg penuh kebencian dan amarah, seseorang tak pernah benar / baik. Ia akan sibuk mengoreksi, menuntut, mempertanyakan, meremehkan, jika yg dilakukannya baik / benar, ia mengklaim bahwa keberhasilannya adalah jasa dia. Tapi, Nuh kharismatik. Ia dihina dari dalam keluarganya sendiri, dengan ketidakpatuhan istri dan anaknya. Dan dari luar, para pemegang dunia mencibir pengikutnya yg didominasi orang miskin. Mereka mencoba 'memakan hati' Nuh. Seperti yg dialami para nabi, tanpa mereka tahu, jalan kebenaran menuntut ketidakberkepemilikan. Termasuk tak memiliki hati lagi. "Bagaimana mungkin mereka tak memiliki 'hati' lagi, Jon?" tanya seorang teman. "Tak seorang pun nabi merasa memiliki apapun. Termasuk hatinya. Mereka tak membiarkan diri, merasa lebih tinggi dari Diri-Nya sendiri,"

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Muda sang nabi Menyelam

No comments:

Post a Comment