Neraca - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, April 28, 2018

Neraca

Orang yg berkata sombong pada orang lain, karena ia memiliki kesombongan dalam dirinya. Seperti ketika seseorang mengatakan kebaikan orang lain, ia mengukur kebaikan orang dengan 'neraca' yg ada pada dirinya._Jon Q_ Ada yg bilang, tugas kita hanya saling mengingatkan, dalam kesabaran, kebenaran-kasih sayang. Tawashow bish shobr, tawashow bil haq, tawashow bil marhamah.
Tapi, dapatkah seseorang diingatkan tanpa diberikan pemahaman? Maka terkadang, orang-orang bijak memperkirakan, mana kritik mana nasehat. Kritik cenderung emosional, tak bisa dari sana lahir dialog atau diskusi yg mencerahkan. Maka dengarkan saja, anggap berbuat baik menjadi pelampiasan emosi orang. Tapi nasehat, dari sana akan lahir diskusi, dialog. Bukan berdebat menentukan kalah menang, tapi yg paling sesuai dengan kondisi. Mana yg lebih baik, orang yg dinasehati lalu memberi nasehat balik, atau orang yg memberi nasehat tapi tak mau diberi nasehat?


Selanjutnya tentang kesabaran. Kebenaran yg disampaikan dengan cara kasar, bisa jadi akan susah diterima. Tanda yg disampaikan adalah kebenaran, maka itu akan disampaikan dengan kebenaran. Yg menasehati dan yg dinasehati, sabar. Yg menasehati dinasehati balik, juga sabar. Selanjutnya tentang kebenaran. Banyak orang yg mengutip qur'an, hadits, ijma, atau bahkan qiyas, lalu dihubungkan dengan penjelasan yg ia berikan. Tapi, menutup pintu 'ikhtilaf', perbedaan, atau bertanya lebih dalam menggali apa yg ia jelaskan. Mereka mengingatkan, bahkan mengutip qur'an atau hadis, tapi enggan diingatkan dengan pemahaman yg lebih dalam. Di satu sisi, bagus menafsirkan qur'an dengan 'neraca' (pertimbangan/logika) sendiri. Tapi di sisi lain, apakah bersamaan dengan itu ia belajar asbabun nuzul, tafsir, nahwu-shorof, tashrif makhrojul hurf, ushul, kalam (filsafat), dan begitu banyak disiplin ilmu yg sebaiknya bersamaan dengan itu kita mempelajarinya? Terakhir, tentang kasih sayang, cinta, persenyawaan kasih dan sayang. Jika ia mengingatkan kebenaran, pasti akan disampaikan dengan cinta, tak memaksa, tak menyiksa. Menuntun pelan-pelan 'neraca', logika orang dengan sabar, bertahap menyeimbangkan ilmu dan iman. Orang-orang yg masih membutuhkan motivasi dari orang lain, mereka ibarat peminta-minta. Abdullah ibn a'ma, dalam surah abasa. Dan para motivator entah sengaja entah apa, terus memberikan mereka makanan. Tidak memberikan 'kail' dan diajari pelan-pelan memancing, tapi terus diberikan ikan asin, membuat kecanduan. Lalu candu itu 'mengaratkan' neraca, logika para penikmatnya. Alih-alih mendidik, malah memelihara kebodohan.

Bacaan selanjutnya

Siapa yg tak menganggapmu sombong? Kesombongan yg menyenangkan

No comments:

Post a Comment