Nikmatnya mendaki - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, April 11, 2018

Nikmatnya mendaki

Mereka yg sedang jatuh cinta, lelah tak akan terasa. Mungkin tak pernah terjawab, dari apa kerinduan datang dan seakan menyiksa. Ini tentang pendakian, dari rasa harap, rasa takut, dan cinta di puncaknya. Sepasang kakek-nenek akan terlihat remaja ketika tetap merasakannya. Mendaki, meninggalkan sejenak kenyamanan menuju ketinggian pemahaman. Katanya, fil jannati umriy tsalasa wa tsalasin. Di surga, penduduknya berusia 33, usia ketika cinta kembali memuda._Jon Q_
Ada testimoni dari rekan guru kakak saya, waktu berkunjung ke rumah. Dia seorang PNS, kaum Nahdliyin. Ia mengira kakak saya yg berkerudung besar, dan dia semakin yakin saat melihat keluarganya pun berkerudung sama, mengira dari golongan 'Islam modern'.
"Kalau Islam modern, kok banyak foto ahlul baith (habib) ya?" cerita kakak saya menirukan. Di rumah itu, para barisan keponakan memanggil bibinya dengan sebutan 'ammah' : bibi, bahasa arab. Bahasa sehari-hari jawa krama / ngoko. Di rak majalah, lebih banyak majalah salafi daripada koran. Tentu, banyak orang mengatakan keluarga ini 'aneh'. Tapi, seperti yg Jon katakan di awal : itu hasil pendakian yg sukar dan tinggi. Fa la aktahamal aqabah, siapa yg tak mendaki, ia tak bisa menikmati keindahan dunia dari atas puncak. Di daerah tempat kuliah dulu, ada bagian desa yg disebut Geger Kalong (Gerlong) tengah. Ada jalan yg melintasi pasar, itu jalan menanjak - mendaki. Tentu itu tak seberapa dibandingkan hiking. Tapi pemahamanku 'matang' di jalan itu. Malam dini hari saya sampai di kota itu, dari terminal sampai kampus, yg kalau naik angkot siang hari bisa 1-1.5 jam, jam 1 pagi itu saya lakukan dengan jalan kaki. Jalanan kota datar, tapi pikiranku mendaki. Di dalam sana terjadi perang sengit 'perdebatan teologis' yg klimaksnya di jalan Gerlong tengah yg menanjak itu.
"Jangan Kau kira dengan 'menyiksaku' begini, cinta itu akan berkurang. Kau salah! Ini akan semakin menguat," yg ternyata apa yg saya anggap 'Tuhan' bukanlah Tuhan yg sebenarnya. Seperti Ibrahim dengan 'pendakian teologisnya'. Dari bulan, menuju bintang, lalu matahari, dan sampai pada-Nya, yg justru tak dapat ia ketahui. Dan berhala-berhala kecil pun dihancurkan. Itu 'menyindir' kita. 'Pendakian teologisnya' dilanjutkan dengan menghancurkan berhala-berhala kecil : bayangan-bayangan tentang harapan dan rasa takut selain pada Tuhan. Ia menyisakan yg besar, itu dirinya sendiri. Subjek tersulit yg selalu menghalangi pandangannya pada-Nya.

#konsultasipsikisgratis #konsultasi #psikisgratis

Bacaan selanjutnya

Seseorang yang datang dari kedamaian Menengok sunyi

No comments:

Post a Comment