Puisi untuk yang tercinta : Nabi Muhammad - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, April 12, 2018

Puisi untuk yang tercinta : Nabi Muhammad

Ramai orang bergelombang menuju rumah Tuhan Mereka ingin merayakan hari lahirmu, wahai rasul Tapi aku tak bisa bersatu dengan mereka Aku memilih bersedih di pojok ruang sejarahmu Bukan aku tak mau merayakan hari lahirmu, wahai nabi Allah Atau jika Engkau suka dan membuatmu bahagia Anggaplah aku begitu dan hukumlah aku Lemparkan aku pada neraka yg paling dalam, paling luas
Atau potong-potonglah tubuhku
Dan besarkan tiap potongan tubuh itu ke seluruh ujung neraka
Agar tak ada manusia yg memasukinya kecuali aku
Selama engkau suka, aku rela

Bukan aku tak mau merayakannya bersama mereka
Aku takut tak sanggup menahan kemarahanku pada para penerusmu
Aku marah, wahai nabi, aku marah!
Tapi pada siapa aku harus?



Aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku Pada umatmu di zaman ini Jika aku tak pantas memikirkan umatmu Mengapa Dia memberikan pemahaman ini padaku Umatmu mudah marah Mudah tertipu Mudah terayu nafsu Mudah merasa mampu Umatmu berlomba menggunungkan harta Menghartakan gunung-gunung bumi-Nya Umatmu menyempitkan pikirannya Memikirkan hal-hal remeh yg teranggap besar Umatmu tenggelam dalam pujian Enggan belajar menggali pemahaman Umatmu cepat merasa pintar Hanya dari dua atau empat lembar kitab Pemuka-pemuka agamamu, wahai rasul Oh, ya ampun Mereka menutup dialog tak membuka pikiran Mengumpulkan pengikut sedang yg layak diikuti hanya engkau Mereka membuat hukum Menakuti umat dengan rasa takut yg hanya Tuhan yg boleh memberikannya Mereka hanya bermain di permukaan samuderamu Tapi telah merasa menyelam dan menganggap telah benar Pada siapa aku marah, wahai yg dicintai Allah? Pada siapa? Engkau kelaparan Para penerusmu saat ini berebut kenyang Engkau memiskinkan diri dalam kekayaanmu Mereka, oh, nabi yg aziz Memperkaya diri di tengah-tengah umat yg miskin Kemiskinan ilmu, iman, cinta Pada siapa aku marah, wahai nabi Tak mungkin padamu Engkaulah yg seharusnya marah Memarahiku yg dalam kemarahan agar kembali pada keheningan

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Muda sang nabi Menyelam

No comments:

Post a Comment