Saat si Jon Quixote menangis - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, April 6, 2018

Saat si Jon Quixote menangis

Saat kita terpuruk, merasa begitu gagal, terjebak hutang, seakan dunia begitu menyesakan, kita terjatuh : siapakah yg akan menolong? Siapa yg mengangkat bangkit diri kita? Orang lainkah? Tuhankah? Atau diri kita sendiri? Jika diri kita sendiri, untuk apa Tuhan ada? Untuk apa kita menyembah-Nya jika ketika kita terjatuh ia tak datang menolong kita?_Jon Q_
Itu adalah pertanyaan kerinduan Jon 2010 lalu, kerinduan yg begitu dalam pada Tuhan. Semalam, kisah 'ketersesatannya' ia ceritakan pada seorang teman baru.

"Dingin begini - baru saja hujan, enaknya ngeteh," sms Beth pada Jon. "Wah, boleh tuh. Mau dimana?" balas Jon. Mereka 'moci' di lesehan pinggir jalan pantura. Bicara banyak hal, sampai Beth teringat dengan sahabat SMA-nya. "Aku ada teman yg mau ikut forum mengaji kita, Jon," kata Beth. "Yak ajak saja," jawab Jon sambil menyeruput teh hangatnya. "Dia lagi dalam masalah besar," cerita Beth. "Adiknya, dia sudah punya istri, hutang di bank 80 juta. Di mertua 15 juta, entah di teman-temannya berapa ratus atau juta. Dipakai buat judi, rumahnya mau disita beberapa bulan dekat ini. Dia sudah tak sholat, tak kerja, jika adiknya judi secara nyata, kakaknya, temanku itu, kecanduan judi online," Si Jon tiba-tiba terdiam. *Ya ampun, dalam sekali kau terjatuh* Dalam hati, Jon menangis. Membayangkannya saja terasa getir, apalagi mengalaminya. Na'udzubillahi min dzalik. Ibunya sudah meninggal, itu juga karena tingkah adiknya itu. "Dia lagi apa sekarang? Bisa ajak sekalian moci nggak?" kata Jon. Beth mengirim sms pada temannya itu, Bond namanya. Mereka mengobrol sampai subuh. "Badanmu segar, Bond, tapi jiwamu gelap, pikiranmu buntu," kata Jon langsung 'menerawang'. "Ini pulang subuh, jangan duduk, jangan tiduran, langsung ambil wudhu, sholat subuh," "Wah, nanti babeh kaget Jon, habis apa aku jadi tobat, sholat subuh?" kata Bond. Mereka tertawa. "Aku banyak omong bukan berarti sombong, insya allah bukan," kata Jon. "Meski tak separah kamu, aku juga pernah 'terjatuh'. Sampai aku 'berdebat' dengan Tuhan, 'Jika kita terpuruk merasa begitu sial hidup ini, terjatuh sampai tak tahu lagi kemana kita bisa mencari pertolongan lagi, siapa yg akan membantu kita bangkit? Orang lain? Sampai kapan kita akan bergantung pada orang lain? Tuhan? Apakah Ia akan turun dari langit membantu kita bangkit? Jika kita sendiri yg menjadikan kita kembali bangkit, untuk apa Tuhan ada? Untuk apa kita meyembah-Nya? Tapi itu adalah ungkapan kerinduanku, Bond. Ungkapan kerinduan seorang kekasih yg merasa diacuhkan. Ini tentang keikhlasan, tentang cinta, tentang penghambaan tanpa harap apa-apa. Tanpa meminta, menuntut, mencintai sekalipun tak berarti apa-apa. Tapi, ini terlalu tinggi. Aku dan Beth akan menemanimu. Kau tak sendiri."

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Siapa yg tak menganggapmu sombong?                                         Tentang kerendahan hati

No comments:

Post a Comment