The complicated contemplating - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, April 4, 2018

The complicated contemplating

Aladzina yu'minuna bil ghaib. Ada sesuatu yg menggerakan kita untuk sampai pada takdir yg memang harus kita penuhi. Itu tak mungkin Tuhan, karena Ia maha gaib, tak terjangkau diri ini. Apakah (energi) kebaikan masa lalu? Apakah itu memiliki kesadaran sendiri, bahwa kita harus memilih takdir 'ini', bukan yg 'itu'? Siapa kesadaran itu jika bukan Tuhan, dan bukan juga kesadaran kita?_Jon Q_
"Sibuk, Jon?" sms Beth.

 "Just a little. What's up, bray?" balas Jon. 

"Biasa, moci yuks?"

 "Ayuks, dimana?"

 "Rumah lu, hihi," "

"Yawez, sinih, ta tunggu yak,"

Di teras rumah si Jon, di gelaran tikar, mereka moci sambil mendengar riuh pembacaan maulid barzanji di mushola / masjid terdekat. "Lu gak ikut mauludan, Jon?" tanya Beth. "Di itu mushola kan ada?" rumah si Jon dekat mushola. "Gak," jawab Jon pendek. "Bid'ah yak? Hehe," ledek Beth. "Bukan karena itu," "Lah seh?" "Nada sholawatannya orang tua banget," jelas Jon. "Dari SMA juga gua suka ikut maulud. Pas pulang kuliah, lah kenapa nadanya beda? Padahal maulud itu sengaja dibikin para ahli tasawuf biar pelakunya 'ekstase' pas baca. Lagipula, sepulang kuliah gua di cap sesat sama pengurus mushola. Mana berani orang sesat dekat-dekat mushola? Hehe," "Yak elu kan memang sesat dan menyesatkan? Wahaha," Beth membully. "Menyesatkan ke arah yg benar," Beth melanjutkan. "By the way, Jon, gua kepikiran sama pemahaman serabut takdir yg lu bikin," "Kenapa gitu?" "Semisal Rasul menikah dengan Ummu Hani, sepupunya, anak dari Abu Thalib, mungkin Fatimah gak bakalan ada dan sunni-syiah bisa jadi gak tercipta ya, Jon?" tanya Beth. "Kemungkinan itu ada, tapi tetap saja gak mungkin," jawab Jon. "Gak mungkin, maksudnya?" "Rumusnya, misal, 3+3 = 6, tapi 6 gak mesti 3+3. Tapi ujungnya itu," "Lah berarti Allah menentukan takdir? Kalau Allah bisa kita pastikan menentukan takdir, berarti Allah gak maha gaib lagi dong? Kan bisa diketahui?" "Bagaimana jika bukan Allah yg melakukan itu?" sanggah Jon. "Seperti kata lu tadi, Dia maha gaib," "Lah seh siapa?" Hening. Jon tersenyum. "Diri kita sendiri?" tebak Beth. Jon menggelengkan kepala. "Apapun yg terjadi, rasul akan tetap menikah dengan Khadijah," Jon mulai berceloteh. "Bertemu Jibril, lalu mengabarkannya pada Warakah, paman Khadijah, dan memenuhi takdir yg lain," "Yak berarti sudah ada yg memastikan dong, rasul menjalani takdir itu?" tanya Beth. "Siapa yg memastikan?" tanya Jon balik. "Penjelasannya bagaimana itu, Jon?" "Manusia diberikan pilihan hidup, tapi ia akan menjalani takdir yg ditentukan, oleh semacam, emm.." Jon berpikir keras. "Semacam 'ketidaksadaran yg sadar', yg mengarahkannya pada takdir yg memang akan dipenuhinya," "Hadeeh.." Beth berpikir keras. "Lanjutin, Jon," "Informasi dari qur'an, kita memanen apa yg kita tanam. Kita mendapatkan apa yg kita keluarkan. Tapi, semisal ketika rasul tertolak sepupunya, apa yg rasul 'tanam' sampai 'memanen' kegagalan? Kita hanya bisa mengatakan, itu hanyalah tahap yg memang harus dilalui," "Bentar, bentar," Beth merasa paham. "Jadi, semisal gua yg gagal dua kali, itu hanya tahap yg harus dilalui, agar gua memenuhi takdir sama istri gua, begitu?" Jon mengangguk. "Jadi, semua sudah ada yg mengatur, ya?" kata Beth lagi. "Tapi, semisal lu yg gagal 7 kali, berarti hanya fase yg harus dilewati biar lu sampai pada takdir lu, begitu,?" "I-, iya-, gak enak benar pertanyaan lu yg ini, Beth," Jon mendengus. "Bhahaha,"

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Menyelam Membenci kebencian

2 comments: