Al bayyinah - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, May 18, 2018

Al bayyinah

Guru, siapakah aku? Maksudku, aku yg ini akan hancur. Bagaimana aku membayangkan diriku yg bukan ini? Seperti apakah aku, diriku yg bukan ini?_Jon Q_ 

Berteman dengan si Jon, terkadang seperti sedang menemani seseorang yg sakit jiwa. Berbicara, tapi seakan enggan dibalas bicara. 

"Ada satu fase, ketika aku takut membaca qur'an. Aku merasakan, tiap menyelaminya pemahamanku semakin naik, naik, dan naik. Kau tahu, apa akibat 'menakutkan' dengan pemahamanku yg semakin tinggi itu?" Jon berceloteh retoris. "Kita tak bisa benar-benar memiliki seorang teman - kecuali Tuhan. Kau akan selalu 'terasa' asing di tengah teman-temanmu. Kau akan merasa sangat kesepian. Seakan kau telah benar-benar tersesat, ketika kau merasa hancur di hadapan-Nya. Kau menemukan-Nya, ketika logika, dirimu, hancur di hadapan-Nya." 

Maksudnya apa sih? Penjelasan yg tak jelas. 

Aku dengar dari ibunya, akhir-akhir ini ia sering mengigau. Menjadikan ibunya dari kamar sebelah si Jon, merasa khawatir dengan kewarasannya. Dia sering mengigau : 

Ya rasul, sungguh, aku benar-benar tersesat! 
Ya rasul, sungguh, aku benar-benar tersesat! 
Ya rasul, sungguh, aku benar-benar tersesat, tolong aku! 

"Ayat-ayat qur'an turun dengan dua cara," kata si Jon lagi, di sampingku. "Turun langsung ke dalam hati rasulullah, atau disampaikan oleh malaikat. Para malaikat menjaga kesucian qur'an, karena Tuhan mengajarkan pada mereka sebelum Adam. Ar rahman, yg maha cinta. Alamal qur'an, yg mengajarkan qur'an (pada para malaikat). Kholaqol insan, yg menciptakan manusia (Adam). Alamahul bayyan, mengajarkan dengan penjelasan (pada Adam)," 

"Itu mengapa malaikat tak menerima ketika Adam diangkat menjadi khalifah (wakil Allah) di bumi," Jon melanjutkan ketersesatannya. "Para malaikat diajari ayat-ayat qur'an, tapi tanpa penjelasan. Sedang Adam, diajari qur'an beserta penjelasannya. Maka ketika Tuhan meminta Adam menjelaskan ayat-ayat Tuhan yg tak diajarkan pada para malaikat, ambi-uwniy bi asmaa i inkuntum shodiqin, maka Adam pun menjelaskannya dengan mantap." 

"Wahai rasul, bagaimana mungkin aku yg awam bahasa arab, ibadah tak tentu arah, tak memiliki trah ulama, mendapatkan pemahaman seperti itu, jika bukan sedang tersesat? Arahkan aku, wahai rasul, karena engkaulah satu-satunya jalan menuju Ia," 

Entah apa yg tengah menimpa si Jon, sampai ia mampu bicara begitu. 

"Siapa aku, guru, sesuatu yg kekal dalam diriku (ruh)? Jika itu adalah Tuhan, bagaimana aku 'melihat' diriku yg kekal itu?" 

"Ada banyak hal, nak, yg dapat kita lihat ketika kita tak 'melihatnya'," kata sang guru. "Engkau tak akan mampu melihat diri asalmu, selama kau masih melihat dirimu ini. Bahkan Musa, pun tak sanggup,"

No comments:

Post a Comment