Jin mukmin - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, May 17, 2018

Jin mukmin

Esai ramadan 1

Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha
Qod aflahaman zakkaha

Malam selasa kemarin Jo  diskusi dengan satu-satunya sahabat yang hampir sama derajat spiritualitasnya. Diskusi tentang jin, dimensi mereka, ayat-ayat di quran dan hadits, kesaksian mereka di akhirat dan neraka, juga gangguan-gangguan pada tubuh manusia yang disebabkan ulah mereka.

Ada ayat yang bilang begini : fas'alu ilaa ahli dzikr inkuntum la ta'lamun. Bertanyalah pada ahlinya, jika kamu tidak tahu. Pertanyaannya adalah, apakah belajar tentang dimensi jin boleh bertanya pada 'mereka' : jin-jin mukmin. Ada hadits (hasan) tholabul ilmi walaw bisysyin, tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina. Apakah ayat ini multi dimensi, bahwa jikalau bisa, tuntutlah ilmu sampai ke negeri jin? Terdengar gila. Inistatho'tum antanfudzu, tembuslah penjuru langit dan bumi, kamu tidak akan mampu kecuali dengan kekuatan. Apakah menembus langit wilayah (dimensi) jin untuk mencari ilmu itu dibolehkan? Lalu, apa hubungannya dengan sahabat Jon itu? Sebentar, satu kisah lagi.

Nabi Ibrahim pernah bertanya jawab dengan malaikat penghancur, ketika mereka hendak menghancurkan kaum Luth yang melakukan dosa besar, homoseksual. Bertanya jawab, dialog, Ibrahim bertanya sesuatu, dan malaikat menjawab. Tapi, itu kan malaikat? Oke. Jaman rasulullah, ada seorang sahabat yang menangkap pencuri gandum. Lalu si pencuri meminta dilepaskan dengan memberi jaminan doa yang akan menyiksa kaum jin jika itu dibacakannya. Apa itu? Ayat kursi. Kita, diajarinya (jin) agar punya senjata untuk melawan mereka.

Secara tidak sadar, di antara kita diam-diam terkena gangguan jin hampir di setiap harinya (cek 50 tanda gangguan jin, situs ruqyah.com). Sifat buruk kita menjadi jalan mereka, tiap dosa kita menjadi 'rumah' mereka di dalam diri, untuk menggoda kita. Mereka, para jin berjamaah (yaa ma'tsarol jinni wa insi, ar rahman : 31), dengan jabatan bertingkat, bergiliran menggoda kita. Mereka tak selalu memasuki jiwa kita, karena di dalam jiwa kita ada kendaraannya. Apa itu? Nafsu. Inna nafsa la ammarotun bissu'i illa ma rahima robbi, yusuf : 53. Sesungguhnya nafsu selalu mengajak ke jalan kejahatan/keburukan, kecuali nafsu yang telah diberikan rahmat oleh allah.

Jon bertanya jawab dengan sahabatnya itu, yang di sisinya duduk jin mukmin yang menyayanginya. Dari mana Jon tahu dia (jin) mukmin, beriman?

Ada tiga jenis manusia dan jin : beriman, kafir, dan fasik. Mereka yang beriman taat, yang kafir membangkang, dan yang fasik seakan-akan beriman sedangkan hatinya kafir pada Allah. Poin pentingnya, manusia atau jin yang semakin mendekatkan diri dan cinta kita pada Allah, insya allah dia adalah manusia atau jin beriman. Asumsi sampai saat ini, jin sahabat Jon itu beriman. Karena selalu mengingatkan dirinya pada Tuhan, meski memang semangatnya untuk mengaji belum begitu kuat. Itu proses.

Mengapa Jon bertanya jawab dengannya? Apakah untuk meminta perlindungan selain pada Allah? Bukan. Ya'udzuna bi rijalin minal jinn, manusia yang meminta perlindungan, atau sesuatupun selain pada Allah, adalah sesat, atau setidaknya 'fujuur' (akan dijelaskan sebentar lagi).

Jon bertanya padanya : jika boleh, aku titip pertanyaan buat ' temanmu' itu, karena dia ahlinya dimensi jin (karena dia memang jin). Jalan-jalan apa sajakah yang membuat golongannya memasuki diri manusia? Apakah benar apa yang aku lihat bahwa dalam diri manusia bershaf-shaf jin yang siap bergantian menggoda, berlevel, dan konstan/tetap. Kata si Jon. Mengapa begitu?

Bersamaan dengan sakit bapaknya Jon yang aneh, dia juga diminta siswa alumni smk-nya untuk mengobati ayahnya yang katanya juga sakit aneh. Ini ujian dari Tuhan, Jon sama sekali tak paham ilmu perdukunan dan dia tak mau mempelajari itu. Jangankan jadi dukun, dipanggil ustadz saja dia menolak. Tapi, oleh banyak orang ia sering diminta pekerjaan yang sebenarnya dia tak paham. Tapi ia tetap mengerjakannya, karena ia melihat bahwa Tuhan-lah yang mengarahkan orang itu padanya.

"Bapak dan salah satu kakakmu beribadah bukan semata-mata karena Allah," kata teman Jon dalam kondisi syatahat (setengah sadar).

"Wooh," Jon tersenyum, ia tahu jin mukmin itu yang bicara di depannya.

"Ibadah yang bukan hanya karena Allah, tak akan mendatangkan banyak manfaat," tambah teman Jon lagi.

"Fa'alhamaha fujuuroha wa taqwaha," Jon mengucap surat Asysyam ayat 8 (?).

"Apa artinya Jon?" teman Jon balik tanya.

Itu kenapa di atas diceritakan bahwa spiritualitas teman Jon hampir sama dengannya, karena si Jon setingkat lebih tinggi, bahkan dari Jin mukmin itu. Pernah suatu saat saat mereka sholat berjamaah, jin mukmin itu mencoba mengikuti Jon yang 'ta-rujju', naik ke langit-langit cahaya yang lebih tinggi, dan dia tak mampu mengikutinya (surat ar rahman di atas).

"Allah mengilhamkan dua jalan," lanjut Jon. "Fujuur, keterputusasaan ibadah, karena ibadah yang untuk ini untuk itu (hal-hal duniawi) tak akan begitu bermanfaat untuk orang-orang mukmin. Dan taqwa. Lalu ayat selanjutnya, qod aflahaman zakkaha, sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya. Yang beribadah hanya karena Allah, sekalipun dunia menyiksanya begitu kejam,"

"Tapi aku tak tahu itu, Jon," kata teman Jon. Maksudnya, jin mukmin itu tak mengajari ayat-ayat quran itu.

"Khekhe, makanya ayuk ngaji lagi," Jon tertawa terkekeh.

Bersambung...

Bandung, 17 mei 2018

2 comments: