Jon di tengah perkampungan Jin - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, May 17, 2018

Jon di tengah perkampungan Jin

Di balik penampilan konyol dan tidak meyakinkan itu, Jon Quixote menyembunyikan rahasia besarnya di depan orang-orang si dekatnya. Siang itu, ia berdiplomasi dengan sahabatnya dari 'dimensi lain' agar anak-anaknya tak disentuh sesuatupun dari jenis golongan mereka.

"Kalo panjenengan mau sepenuhnya terjaga dari golongan kami, mas, kami akan berdoa agar Tuhan menurunkan hujan, dan bukan sekedar gerimis," kata 'dia', sahabat Jon yang datang dari perkampungan metafisik di dekat lapangan itu. Dari belakang tempat duduknya di gubuk rumah bilik itu, temannya sesama guru meledek, "Lagi apa om? Jadi pawang hujan ya? Hihi,"

Melihat Jon yang mematung dan sesekali melihat ke atas : langit.  Dia hanya membalasnya dengan tersenyum. Teramat susah sebenarnya menjaga kesadaran antara dunia fisika dan dimensi sana. Jika bukan karena izin Tuhan, Jon tak akan pernah bisa melakukan itu.

"Kenapa hujan? Anak-anakku sebentar lagi mau jalan-jalan?" tanya Jon khawatir.

Lalu ia, sahabatnya itu membacakan surat al anfal ayat 11.

Jon tertunduk lemas. Bahkan sahabatnya itu yg bukan dari jenis manusia keimanannya jauh lebih tinggi darinya.

Di malam hari saat api unggun akan dinyalakan, ia sudah yakin tidak akan terjadi hal-hal yg diakibatkan oleh kaum 'dimensi lain' karena jaminan dari sahabatnya itu. Tapi ternyata ada, bahkan satu anak didiknya sendiri. Awalnya Jon marah besar, setelah api unggun itu ia 'menghilang sejenak', dengan marah besar ia mendatangi sahabatnya itu, hendak ia obrak-abrik perkampungan mereka.

"Kami rela panjenengan membakar kampung kami," katanya. "Tapi jika di akhirat nanti Tuhan putuskan bahwa kejadian itu bukanlah ulah kami, panjenengan sendiri yang bertanggung jawab di hadapan-Nya,"

"Maksudmu, anakku itu menjerit begitu bukan karena kalian?" tanya Jon dengan api yang sudah dinyalakan di tangannya. Api berbentuk anak panah yang siap dilemparkan ke atas perkampungan mereka.

"Mas, kami mengenal tiap penduduk kami di sini." jelasnya. "Jangan hanya karena (jasad)  kami ini tak nampak, lalu kami menjadi sebab apa-apa yang terjadi dalam diri manusia. Insya allah kami adalah jin-jin beriman, mas. Seharusnya panjenengan yang mencari tahu mengapa itu terjadi sedang kami tidak menyentuh apapun dalan diri anak-anak panjenengan itu."

Di malam hari, ketika anak-anaknya tidur seperti gelandangan di panggung besar tempat itu, ada satu anaknya lagi yang menangis menakutkan. Anak-anak yang lain ketakutan, dan bisa saja menular kondisi yang seperti itu : histeria massal.  Tapi dengan diagnosa Jon yang tepat, itu segera di atasi. Dan memang benar bukan kaum sahabatnya itu yang melakukannya.

Sekitar jam 2 pagi, Jon membagi ilmunya pada alumni yang menemaninya di panggung itu.

"Semakin seseorang memahami hal-hal gaib, ia akan semakin merahasiakannya," kata Jon mengawali. "Ia yang paham kegaiban, tak akan menampakan diri bahwa dia mampu, kecuali jika Tuhan memintanya. Di Rumah Sakit Karyadi semarang, sesekali muncul seseorang yang entah dari mana ia datang dan mengobati sakit pasien yang tak kunjung sembuh. Penyakit-penyakit ulah jin. Dia tak dikenal, tak mau dibayar, ketika keluarga pasien sadar, ia telah pergi keluar dari rumah sakit."

"Aku belajar pada seorang ulama di belakang pasar dekat sekolah kita," Jon melanjutkan. "Semakin seseorang paham tentang kegaiban, ia tak harus menyentuhpun para makhluk dari dimensi itu akan menjauh. Aku diajar agar membaca surat 'anu' ayat 'itu' sembilan kali selepas sholat. Ketika ayat ini masuk ke jiwa seseorang, ia tak harus menyentuh orang-orang sakit yang kita sebut kesurupan itu. Cukup mendekatinya saja, orang yg sakit itu akan berangsur sembuh,"

"Surat 'anu' ayat 'itu', pa?" tanya siswa alumni Jon itu.

"Iya,"

Dalam kegelapan panggung besar itu, Jon menyesali buruk sangkanya pada sahabatnya dari alam sana. Hati manusia memang sangat mudah untuk ditakuti.

No comments:

Post a Comment