Jon yg malas bersekolah - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, May 24, 2018

Jon yg malas bersekolah

Berpikirlah maju, tanpa melupakan masa lalu - sejarah. Berpikirlah tentang ketinggian, tanpa meninggalkan mereka yg berada di bawah._Jon Q_ 

Satu tanda seorang anak itu cerdas adalah, ia rajin sekolah, plus rajin belajar. Sedang anak jenius, ia malas sekolah, tapi senang belajar. Senang mempelajari banyak hal, apapun yg membuatnya 'merasa hidup' - bahagia. Anak-anak cerdas, orientasinya karir, pekerjaan, kalau bisa menjadi PNS. Tapi anak-anak jenius, orientasinya menikmati hidup, dengan sebanyak-banyaknya orang. Sekalipun itu membuatnya terbebani, atau mengebiri sebagian mimpi-mimpi. Maka ada anekdot, anak-anak jenius kelak di akherat akan menemani rasul mencari manusia-manusia yg tertinggal di neraka. Karena baginya, tak layak menikmati kebahagiaan jika masih ada orang yg tersiksa. Jalan hidup orang-orang yg telah kehilangan kewarasan. 

Malam lalu, adik kelas Jon waktu SMA main ke rumahnya. Ia ingin main - ditemani ibunya, karena mungkin, merasa bahwa Jon telah membantunya saat SMA dulu. Di satu pembicaraan, ibu Jon berceloteh. 

"Sekolah di SMA NU itu mengharap berkah." kata ibu Jon. Adik kelasnya sudah bekerja di perusahaan batu bara kalimantan, yg gajinya 50x lipat dari gaji si Jon yg seorang kepala sekolah. "Jon dulu juga begitu, tak diterima di SMK 3, dia menyerah. Mau bantu bapaknya saja di sawah. Saya sama bapaknya dia marah, menyuruhnya masuk SMA NU," kisah emaknya si Jon. Tanpa mengerti, saat itu Jon tak tahu sedikitpun, di kotanya ada SMA yg diceritakan ibunya tadi. 

Dari kecil si Jon malas sekolah. Sukanya main, cari benda-benda yg menurutnya unik, melamun, berkhayal. Saat lulus TK, dia menangis tak mau sekolah SD, karena tak punya sepatu. Bapaknya seorang PNS, tapi Jon tak mau sepatu dapat dari beli. Mau sekolah asal ada sepatu, tapi jangan beli? Susah benar dia. 

Itu hanya akal-akalan dia saja agar orangtuanya menyerah. Tapi ia kalah, karena sepupunya memberi dia sepatu. Dan ternyata terbukti, dia malas sekolah. Tak naik kelas di kelas 4. Rapot didominasi angka yg lagi kena datang bulan - merah. Tapi dasar anak-anak, tak merasa malu, sedikitpun tak jera. 

Saat SMP, dia sudah mulai nampak kebiasaan yg nantinya terbawa hingga dewasa : tidur di kelas, menyepi. Lulus SMP dengan rekor membolos sampai 3 bulan di tahun itu. Dari rumah berangkat, tapi 'tersesat' pura-pura tak tahu jalan ke sekolah, melangkahkan kaki ke rumah teman bermain nintendo : super mario. 

Lulus SMP dia belajar fokus agar bisa masuk SMK yg dibina militer angkatan laut. Ia latihan fisik olahraga berat, yg melebihi berat badannya. Dia berlatih push up satu tangan - tapi gagal, dia berlatih claps push up. Ia juga berlatih tenaga lompat katak. Memiliki kemampuan, tapi terlihat diam tak berdaya. Tapi, impiannya gagal. Ia tersesat di sekolah paling sekarat di kotanya, saat itu. 

Bagaimana dengan kuliah si Jon? Its so complicated. 

"2011 aku kerja di kantin rumah sakit, bang," kata adik kelas Jon. "Tapi aku ajak teman yg cuma jaga kounter. Pas dia masuk, aku keluar. Sempat kerja di bogor, di yamaha, tapi akhirnya juga keluar. Jadi pengangguran aku di tahun itu. Susah benar cari pekerjaan," 

Efek dekat dengan si Jon memang begitu. Semangat kerja mengalir deras, pantang menyerah, peduli, dan menikmati hidup. 

"Di tahun 2011, kamu lihat sendiri kan, aku jadi tukang angon sapi?" giliran Jon berceloteh. "Sarjana, tapi jadi kuli angon." mereka tertawa. 

Tapi barangkali benar, yg manusia cari adalah kebahagiaan, bukan selalu kesenangan. Bahagia nyaris tak membutuhkan pengorbanan, sedang kesenangan, semakin besar kesenangan itu, semakin besar pula pengorbanannya. Kebahagiaan Tuhan sembunyikan dalam hati tiap manusia. Ia terhijab - tertutupi - oleh pandangan indera. Dan akan tersingkap pelan-pelan oleh kebijaksanaan yg tumbuh setelah melewati berbagai derita kehidupan. Barangkali, orang-orang bijak ini yg dulunya adalah anak-anak jenius. Melampaui 'label', karena status, seragam, gelar, bersifat netral, tak menentukan kebaikan atau keburukan seseorang. Mungkin termasuk itu, mereka juga melepas label 'jenius', atau apapun. Dan hidup pun kembali seperti siklus, hidup seperti nyanyian anak-anak TK : 

Di sini senang, 
Di sana senang, 
Di mana-mana HATIku senang... 

Dan umumnya, orang-orang dewasa menganggap hanya orang yg telah hilang kewarasan yg mampu seperti itu.

No comments:

Post a Comment