Pertem(p)u(r)an (Season 2) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, May 5, 2018

Pertem(p)u(r)an (Season 2)

Ketika dunia telah jatuh cinta pada seseorang, ia akan mengerahkan segala kekuatan untuk menaklukannya. Tapi bahasa seringkali menjadi kendala bagi apa saja yg telah jatuh cinta. Seperti memandang pagi yg berawal dingin dan sisa-sisa gelap malam._Jon Q_ 

Entah dari Jakarta yg menghubungi ke desa, atau orang desa sekolah Jon yg menghubungi anggota yayasan yg di jakarta. Intinya, tiba-tiba dua anggota akan ke tempat itu, seperti panik, hanya untuk musyawarah 2-4 jam (yg sangat mungkin buntu), lalu pulang lagi ke Jakarta. 

Jon sudah 'menghitung', apa yg kira-kira akan dibahas di sana. Yg paling krusial mungkin tentang fitnah baru, bahwa sekolahnya telah mendapat bantuan besar (sebesar gunung?), tapi tak ada pembangunan sedikitpun. Mereka, ahlul fitnah, mengukur kedangkalan berpikir mereka dengan si Jon (yg memang sudah jelas-jelas idiot, harus segera dirukyah). Tahun 2013, saat Jon baru mendapat amanah itu, fitnah uang berdatangan. Tiga puluh juta dari provinsi, 240 juta dari USA (Memfitnah jangan setengah-setengah!hehe), yg ternyata, itu untuk menutupi bantuan yg mereka dapatkan. Mereka kenyang, Jon and the genk yg mriang. Puas benar hidup jadi si Jon. 

Yg akan datang adalah wakil ketua yayasan, dan bapaknya pembina yayasan yg 'dituakan' oleh pihak 'haters'. 

Jon menghubungi kakaknya, istri dari pembina yayasan. 

"Yg sudah-sudah mbak, semua upaya buntu. Kasian mertua mbak, sudah sepuh, naik kereta bolak-balik," kata Jon di telepon. "Ya kalau memang tak percaya sama saya ya monggo datang, tapi terus terang saya akan 'kaku', sedih, datang jauh-jauh cuma buat dikerjai mereka yg memang tak bisa berpikir waras. Awal tahun kami memang sampai kementerian agama, kami di mediasi. Tapi itu strategi saya mbak, biar kepala kemenag tahu seberapa dungu dan jahat mereka pada kami," 

Enaknya jadi si Jon itu, Tuhan memberikan tampang blo'on padanya. Terlihat polos di depan mereka, lemah, tak berdaya, dan sangat mudah 'dijatuhkan'. Seperti scorpio, justru yg paling kecil yg memiliki racun paling mematikan. 

Siang lalu, Jon ditelepon pamannya, ustadz yg memimpin 'ashabul mas-amah' (golongan orang-orang kiri), kalau rapat diundur. Jon sedikit lega. 

"Tadi siang, ust. Fulan telepon, katanya rapat diundur. Kalau boleh saran, mbak, cukup keluarga ibu dan bapak di sini saja yg dikerjai, difitnah Om Taeun (saudara jauh yg dengki pada keluarga Jon) plus ust Fulan dkk. Kalau boleh curhat setelah 4th memimpin, semua orang sudah angkat tangan. Semua beban ada di saya : Memikirkan guru, merawat sekolah, sistem pendidikan, siswa, menjaga kepercayaan orangtua, ketar-ketir mencari donasi ke luar kota, karena di dalam kota saya tak punya teman. Insya Allah, kalau ada dana, kami darisini yg akan silaturahim ke sana," sms Jon sampai 5 halaman. 

Jangan-jangan benar, Jon telah memecahkan rahasia takdir yg Tuhan ciptakan, sampai-sampai dia enjoy hidup seperti itu?

No comments:

Post a Comment