Raja, imam, pemimpin - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, May 19, 2018

Raja, imam, pemimpin

Manusia mengenal kebebasan, karena ia memahami tentang batas-batas. Manusia yakin ada kekuatan besar di luar dirinya, karena ia memahami tentang kemampuan dirinya sendiri. Hanya orang bodoh yg senang menabrakan diri pada batas, dan tak mengerti mana batas yg membuatnya tak boleh melebihi._Jon Q_ 

Pendakian menuju pada pemahaman yg paling tinggi adalah membebaskan perbudakan. Faquroqobbah. Perbudakan konsepsi yg telah diciptakan sejarah, dan kita anak-anak peradaban terpengaruh olehnya. Perbudakan konsepsi, bahwa hidup itu harus kaya, miskin itu dekat dengan kekafiran, penampilan itu harus agamis, kalau bisa - bagi pria - jenggotan dengan kening berbekas sujud. Perbudakan oleh pikiran sendiri, tentang 'label', konsepsi, yg menjadikan manusia hidup harus seperti orang lain yg nampak baik. 

Budak, bersinonim dengan hamba sa(ha)ya. Hamba, dalam bahasa arab disebut 'abdi', abd al allah, hamba Tuhan yg Esa. Ada yg bilang, mengapa Tuhan menciptakan manusia karena Ia ingin dikenal. Tuhan 'berharap' agar ciptaan-Nya mengenali-Nya. 'Berharap', raja, ro-ja-ain. Tidak ada raja tanpa budak, jika Tuhan adalah raja, maka semesta adalah budak-Nya. Maka dalam surah al balad Ia berkata sendiri, faqquroqobbah. Membebaskan perbudakan. Karena manusia bukanlah budak Tuhan, dalam pemahaman yg 'kosong'. Manusia menjadi budak sebagai manusia, dan menjadi raja ketika ia telah membebaskan kesadarannya, dan bukan lagi dalam 'wujud manusia'. 

Konsepsi budak-raja turun satu 'pendakian' yg 'lebih mudah dipahami', dalam tindakan sholat. Imam, memimpin, makmum, mengikuti. Tidak ada imam mengikuti makmum. Tidak ada imam yg berada di belakang makmum. Karena memimpin itu dari depan, ing ngarso sung tuladha. Menuntun, menggiring - menuntun dalam hitungan jamak, dari belakang, tut wuri handayani. 

Menjadi imam, tak lantas menjadi raja yg tak bisa salah. Seorang imam menjadi pemimpin barangkali tak selalu karena ia paling berilmu, tapi orang yg tak tertutup pikiran dan hatinya. Karena pemimpin, hakekatnya adalah pelayan. Raja, hakekatnya adalah budak. Dan budak adalah raja, pemimpin, untuk dirinya sendiri. Tidak ada pelayan yg bertindak seenaknya pada tuannya. Tidak ada makmum yg bergerak-gerak sendiri tanpa mengikuti imam. Tidak ada budak yg tak taat pada rajanya. 

"Aku menyembah-Nya sebagai budak. Dan Ia menyembah-Ku sebagai raja," Ibn Arabi

No comments:

Post a Comment