Berguru pada dirimu sendiri (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, June 18, 2018

Berguru pada dirimu sendiri (esai)

Ia memiliki sikap hidup yg keras untuk diri sendiri, tapi lembut untuk orang lain. Berhenti mengasihani diri, yg pada akhirnya menghidupkan 'diri' di dalam dirinya. 'Diri' yg ketika didekati dengan pikiran akan tertolak, jika didekati dengan hati akan kehilangan kesadaran diri._Jon Q_

Dialog yg sungguh berat sore itu bersama Jon dan si Dul.
Tentang 'diri' yg tak terikat, yg bebas, yg memiliki segala sesuatu, yg besar, di dalam diri tiap manusia. Gila, ketersesatan si Jon semakin dalam saja.

"Banyak yang ingin aku tanyakan," kata Dul. "Tapi aku ingat, kau pernah bilang, jangan bertanya sesuatu yang justru membuatmu kebingungan,"

"Ada lanjutannya itu," balas Jon.

"Eh? Iya gitu?" Dul nyengir. Lupa lanjutan kata-kata itu.

"Jangan bertanya sesuatu yang membingungkanmu, kalau kamu malas berpikir," aku menanggapi.

Jon terkekeh. Dia menertawakanku yang biasanya cuma diam mematung.

"Aku jadi ingat pertanyaan siswa kemarin, tentang isra mi'raj," sambung Jon. "Bagaimana ketika rasul berada di langit ke tujuh. Mungkin ia ingin aku ceritakan tentang kisah israiliyat, ketika rasul bertemu dengan para nabi di langit (angkasa), sampai akhirnya tawar-menawar sholat yang berakhir dengan kesepakatan lima waktu,"

"Kisah israiliyat?" tanya Dul.

"Iya. Banyak kisah yang disisipi oleh imajinasi para cerdas cendekia yahudi dalam kisah itu untuk menyesatkan kita, umat islam," Jon melanjutkan celotehnya.

"Menyesatkan bagaimana, Jon?" tanya Dul lagi. Aku hanya menjadi pendengar setia saja.

"Membekukan akal umat muslim, dan hanya mengagumi saja apa yang terjadi dengan nabi saat isra mi'raj,"

"Em, jangan-jangan kau punya tafsir yang lebih 'menyesatkan'?"

"Iya,"

"Apa?"

"Bahwa yang dimaksud langit itu adalah bahasa kiasan. Yang sebenarnya adalah derajat ketinggian yang membatasi antara seorang makhluk dengan sang kholik (pencipta)," Jon mulai mendoktrin kami. "Rasul mi'raj, 'naik', tapi bukan ke atas, melainkan 'menyelam' ke dasar jiwanya yang terdalam,"

"Me-nye-lam?" Dul terbata-bata. Kami sudah setengah teler. Tak kuat mengikuti aliran renungan sahabat kami itu.

"Seperti berenang, menyelam ke dasar paling dalam,"

"Ada apa di dasar paling dalam itu?" Dul bertanya setengah ngaco. Sudah sangat nampak, Dul tak mampu mengikuti arah imajinasi Jon.

"Karena di dasar paling dalam itulah, kita yang sebenarnya berada,"

"Kita yang sebenarnya? Siapa?"

"Aku tak tahu. Karena jika aku tahu, maka aku tak akan tahu aku yang ini,"

BoOmM!! Untung saja kami tak pingsan dengan mulut berbusa. Kalimat terakhir itu... Gila. Jon mulai 'mabuk' : syatahat.

"Ia berkata, Anni fa inni qorib, Aku dekat." Jon melanjutkan kalimat-kalimatnya yang 'sesat' itu. "Ia melihatku, dan aku pun melihat-Nya. Hanya ia yang tersesat dan buta yang tak mampu melihat-Nya. Ia mendengarku, dan aku pun mendengar-Nya, hanya ia yang tersesat dan tuli tak mampu mendengar-Nya. Ia merasakanku, dan aku pun merasakan-Nya. Hanya hati yang mati yang tak mampu merasakan-Nya,"

Hening.

"Bergurulah pada dirimu sendiri. Dekati ia dengan kesucian jiwa," Jon melanjutkan. "Seperti ketika rasul telah melihat 'dirinya' yang sesungguhnya. 'Diri' yang menampakan diri, yang hanya mampu dicapai dengan keprihatinan hidup dan derita. Isra mi'raj adalah 'peta', agar kita umatnya mengikuti jalan yang sudah ia capai lebih dulu. Dan sholat adalah pasaknya 'agama', siapa yang menjaga sholatnya dengan baik dan benar, ia tak akan tersesat selama-lamanya. Gunakan logika untuk menjabarkan dunia, mengubah dunia dengan kecanggihan. Dan gunakan hati kita untuk selalu ingat, bahwa diri kita yang ini bukanlah yang sebenarnya. Bahwa diri kita yang sesungguhnya, menunggu kita di 'dalam sana',"

No comments:

Post a Comment