Berjudi dengan takdir (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, June 17, 2018

Berjudi dengan takdir (esai)

Judi dan taruhan diharamkan, barangkali bukan karena tindakannya. Melainkan itu semacam penyakit kegoblokan yg sayangnya lebih sering menjangkit orang miskin._Jon Q_ 

Seorang paman datang ke rumah Jon, menawarkan bantuan sekolah dengan angka yg nyaris mendekati 100 juta. Tapi, jauh sebelum bantuan itu datang, Jon harus memberikan sekian ratus ribu seperti yg sudah dilakukan sekolah-sekolah lain. 

"Ini bukan buat saya," kata pamannya Jon yg baik itu. "Ini untuk 'orang dalam', yg besok mau kesini," 

"Aku paham, paman," kata Jon dilema. "Sekolah kami sedang sangat butuh suntikan dana. Tapi ini termasuk 'maysir', paman. Semacam judi atau taruhan. Kita 'pasang' sekian ratus ribu, nanti - dan itupun jika turun, akan dapat sekian puluh juta," 

"Pasti turun. Saya sudah pengalaman," kata pamannya Jon yg baik itu. "Jangan pikirkan dosa dulu lah, yg penting dapat. Jangan terlalu jujur deh," 

"Persoalannya bukan dosa, paman," kata Jon menanggapi. Jika saja Jon emosi, ia pasti memutarbalikan pemahaman agama pamannya itu. Jon orang yg bolak-balik 'keluar masuk surga dan neraka', ia tak peduli dosa dan pahala. Ia bahkan meremehkan surga yg diincar umat beragama. Dan tak takut neraka yg mengancam manusia dengan sangat mengerikan. "Sekolahku itu belum punya dana, karena bantuan dari pemerintah belum turun sampai sekarang. Kemarin saja gaji guru dari honor mengajarku di SMK, bulan ini aku absen kasih uang belanja buat ibu. Taruhan menjadi haram karena kita menggunakan uang yg tak seharusnya kita gunakan untuk itu," 

"Saya paham. Saya juga mengerti pemahaman keagamaan yg kamu miliki," kata pamannya lagi. "Tapi apakah ini tak bisa diusahakan?" 

"Beda, paman." kata Jon. "Beda antara usaha/ikhtiar dengan taruhan. Aku siap berusaha selelah apapun itu, tapi aku tak mau bertaruh, apalagi mengorbankan keadaan miskinnya kami," 

"Jadi ini mau diambil atau tidak?" 

"Kalau memang itu rezeki kami - setelah berusaha sungguh-sungguh, itu tak akan hilang, paman. Tapi kalau memang itu belum rezeki kami, toh kami sudah terbiasa 'mengais receh'." 

"Ini jeleknya orang berilmu. Betah benar menderita," pamannya Jon bercanda. Sedang keponakannya, yg nyawanya belum penuh itu - baru bangun tidur, hanya menghela nafas sambil tersenyum tegar.

No comments:

Post a Comment