Di atas logika generasi micin (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, June 20, 2018

Di atas logika generasi micin (esai)

Jika dunia ini baik, mengapa ada keburukan? Apakah keburukan adalah kebaikan yg belum sepenuhnya kita kenal? Tangisan tak harus memiliki alasan untuk keluar. Jika senyuman senang menunjukan dirinya, mengapa itu tak sama dengan air mata?_Jon Q_ 

Ia berkata : Fa idza sa-alaka 'ibadi, anni fa inni qorib. Ia dekat, 'Min jablil wariyd', bahkan dari urat leher manusia. Jika itu tentang kedekatan, maka itu bukan kapasitas pikiran.
Karena pikiran terkondisikan oleh indera : mata, telinga, kulit. Terkadang, bahkan seseorang tak bisa melihat kacamata yg sebenarnya ia letakan di atas kepalanya. Apalagi, Tuhan.

Kedekatan urusan rasa, hati. Maka jika seseorang membayangkan Tuhan sedang mengawasinya, mendengar doanya, itu bukan Tuhan yg sebenarnya. Tapi, bagaimana logika memastikan bahwa itu pasti bukan Dia, sedang logika sendiri tak mampu mencapai-Nya? Seakan seperti seseorang yg hendak memastikan siapa yg sedang berjalan ke arahnya dari kejauhan sana, sedang ia sebenarnya tak mengenali siapa dia. 



Seperti kisah sufi gila - Abunawas atau Nashrudin Hoja, ketika mencari kunci. 
"Apa yg kau cari, Abu nawas?" tanya seseorang. 

"Mencari kunci," jawab abu nawas. 

"Memang hilang dimana kuncinya?" 

"Di dalam kamar," 

"Lah, kenapa carinya di halaman depan?" 

"Karena disini lebih terang," 

Seperti orang-orang yg mengira akan menemukan Tuhannya di tempat-tempat suci. Mereka tak paham, bahwa kesucian berawal dari hati. Seribu tempat suci tak bisa mempertemukan mereka dengan Tuhannya, selama hati masih terikat dunia. 

Manusia akan selalu tersesat, selama ia mengira Tuhan seperti apa yg mereka anggap biasanya. Orang muslim tak pernah berhenti berdoa dalam sholatnya : ihdinashshiroth al mustaqim. Karena manusia secara keseluruhan tersesat dalam logikanya. Kecuali ia, yg telah berada di atas logika. 

"Aku lelah mencari-Mu," kata seorang sufi. 

"Kau cari Aku dimana? Apakah Aku pernah menghilang darimu?" jawab Tuhan. 

"Tapi aku tak pernah tahu tentang Engkau," 

"Karena Akulah yg maha suci, bahkan lebih di atas kemahasucian-Ku sendiri. Pengetahuan akan menjadi debu yg membatasi Aku dan engkau. Lepaskan pengetahuanmu di hadapan-Ku, milikilah itu di hadapan dunia ciptaan-Ku,"

No comments:

Post a Comment