Ikatan (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, June 10, 2018

Ikatan (esai)

Kegagalan terasa sangat pahit (sakit) ketika kita mengalaminya. Tapi terasa manis (indah) ketika kita mengenangnya. Tanda kita menang adalah ketika kita mampu mengenang dengan elegan. Berani mengingat kembali, tak melupakan kejatuhan yg orang-orang tertawa saat melihatnya. Elegan, karena kita tak berhenti berjuang dalam hidup, dan terus berjalan dalam kebaikan._Jon Q_ 

Seorang pegawai negara bercerita tentang kenakalan siswa SMP. Ia seorang guru, berkemauan tinggi bagaimana agar siswa-siswinya berbeda, menciptakan semacam 'budaya tandingan' dari budaya pop yg meracuni siswanya. 

Ada satu penelitian, ketika seekor anak elang dibaurkan dengan lingkungan anak-anak ayam. Sayap yg seharusnya digunakan untuk belajar terbang, ia tak menggunakannya. Sebaliknya ia menggunakan cakar dan paruhnya untuk mencari makan. Beberapa bulan, si anak elang ini dikembalikan ke lingkungan anak-anak elang. Maka ia belajar terbang, bersuara memekik seperti induknya. Tapi sebulan kemudian, anak elang itu dikurung lagi bersama anak-anak ayam. Ia nampak tertekan di dalam kurungan kecil. Yg pada akhirnya, ia kembali bertingkah seperti ayam. 

Indonesia bukan sekedar Elang, tapi bahkan Garuda. Makhluk legenda anak dewa yg bersayap. Tapi karena bangsa ini tak berani melawan dirinya sendiri, memilih menikmati ketertindasan oleh budaya asing, maka bangsa inipun lemah. Pemudanya senang memanjakan diri, mengasihani diri, menganggap tugas-tugas besar hanya untuk mereka yg tua. Tapi, para tetua pun linglung. Mereka terpenjara rutinitas. Individualis, terlebih mereka yg berpangkat tinggi di hadapan dunia. Tak memikirkan mahalnya sembako, listrik, air PDAM yg mampet, jalanan yg macet, konvoi Moge pun benar-benar merdeka. Para pemimpin wilayah tak bisa apa-apa, karena nyatanya rakyat miskin itu pantas ditindas. Ditipu ketika pemilu, ditinggalkan ketika telah menang. Dan begitu terus sampai kiamat, si miskin yg terlalu kuat sampai mau dibohongi berkali-kali tanpa mau menyadari. 

Pendidikan yg ditujukan memotong alur hidup orang-orang tua berpikir kolot pun nampaknya gagal. Guru hanya berbekal buku pegangan percetakan untuk mengajar. Tablet dan teknologi bukan ia gunakan untuk meningkatkan kualitas diri. Tapi mencari resep teman nasi, gosip pagi, atau selfie pose anak-anak labil. Dan ketika siswa bengal, guru pun murka. Marah-marah, mengancam, menghukum. Satu guru pegawai negara memperbaiki, 10 guru pegawai negara lain menghancurkan mental siswa-siswanya. Lebih mudah untuk percaya bahwa bangsa ini belum merdeka, daripada harus menahan rasa pedih ditiap upacara kita pura-pura merdeka. 

"Jika Pak Jon tahu seberapa parahnya bangsa ini rusak, dan ada kesempatan mengajar di luar negeri, mengapa masih memilih disini, Pak?" tanya siswa Jon. 
"Ini tentang cinta, nak," jawab Jon. "Dari SMA aku menghindar dari cinta-cinta kecil, karena aku akan meraih cinta terbesarku - pada tanah air. Karena lebih baik menderita bersama ia yg kita cintai, daripada bersenang-senang sendiri," 

Tapi, siapa kau, Jon, di mata ibu pertiwi? 

*dirgahayu bangsaku,

#ngopi    #HUTRI   #esaikeren

No comments:

Post a Comment