Jalan-jalan (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, June 15, 2018

Jalan-jalan (esai)

Sabar itu sikap menerima kenyataan, tetap tenang, dan terus berjuang. Syukur, lebih tinggi lagi. Menerima kenyataan dengan senang hati - seburuk apapun keadaan, tetap tenang, dan terus berjuang. Ikhlas, yg paling tinggi. Ketika tak ada lagi 'label-label' manusia normal. Jiwa terbang seringan awan, hingga ketika tersadar ia lupa, bagaimana caranya menjadi 'normal' seperti sebelum ini, seperti kebanyakan orang._Jon Q_ 
Sore hari, senja yg masih semangat bersinar, menerangi kursi kayu panjang di halaman rumah Jon. Ia mendapat sms dari adiknya Bet, tentang pinangan yg diputus pihak perempuan. 

"Mas Bet mau kesitu kak," kata adik Bet pada Jon. 

"Ok," balasnya. 

Jon menyeduh kopi pahit. Pas ketika ia bawa dua cangkir kopi itu, Bet sampai di rumahnya. 

"Sini duduk tenang, dan mari kita berbincang sebagai seorang jomblo," Jon mencoba menghibur Bet. Dua cangkir kopi sudah di depan mereka. 
"Bagaimana rasa keputusasaan itu?" Jon bicara lagi. 

"Perih juga ya," jawab Bet pelan. 

"Dalam kondisi ini, kau tak butuh pemahaman. Tapi ketenangan, kedamaian pikiran," 

"Iya," 

"Aku disini, kalau kau butuh teman," Jon mencicipi kopi hitamnya. 

Ia lalu membacakan satu puisi : 

Kejatuhan memberi rasa sakit di satu sisi 
Dan memberi kekuatan di sisi lain dalam diri 
Mengurangi ingatan tentang seperti apa rasanya dicintai 
Menambahkan pemahaman tentang cinta yg tak boleh mati 

Manusia diberikan logika 
Tapi bukan berarti ia mampu memikirkan semua 
Diberikan kaki dan tangan 
Bukan karena mampu menggapai semua 

Terkadang ia hanya jalan-jalan 
Menikmati apa yg diberi Tuhan 
Tanpa harus menjadi bagian 
Dari diri yg kan kembali pada-Nya sendirian 

Mereka menganggapmu matahari 
Sedang mereka adalah bumi 
Berpikir bagaimana cara bumi mencintainya 
Agar matahari merasa dicintai dan berharga 

Bumi tak mengerti 
Dengan mencintai manusia 
Itu setara dengan mencintainya di atas sana 
Dan membuatnya merasa berharga 

Bet meminum kopinya. Ia menghela nafas, seperti sudah agak lumayan perasaannya. 
"Tidak ada perdebatan dalam diriku lagi," ucap Bet. "Terkadang pikiran membawa kita jalan-jalan terlalu jauh, sampai kita rasanya malas memulai kembali dari awal," 

Jon tersenyum, meminum kopinya yg masih hangat. Ia tahu, di saat seperti ini, Bet membutuhkan pendengar. 

"Ada orang-orang yg dimudahkan takdirnya," lanjut Bet. "Itu menyenangkan, tapi tak punya kesempatan jalan-jalan, menjelajahi suasana hati. Ada yg dipanjangkan jalannya, itu melelahkan. Tapi tanpa rasa lelah, kesenangan terasa tak begitu sempurna," 

"Kau benar, Jon. Takdir itu urusan kecil yg seringkali kita tak tahu siapa yg mengatur itu - Dia yg sebenarnya adalah 'urusan terbesar'." 

"Dan kita sebenarnya sedang berjalan kesana. Ada yg mencukupkan diri untuk hidup hanya memikirkan dirinya sendiri. Dan ada yg hidupnya berbagi, menggenggam tangan banyak manusia, menuntun jalan. Mungkin karena itu jalannya dipanjang-lebarkan, ia tak tahu dimana takdirnya, tertutupi sejenak oleh banyak manusia yg dibawa bersamanya," 

Jon tertawa kecil. Hati Bet telah tersembuhkan. Karena dari hati yg sehat, dari sana muncul pemahaman yg mendamaikan.

No comments:

Post a Comment