Kejujuran (esai cinta) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, June 14, 2018

Kejujuran (esai cinta)

Mungkin karena logika berusaha keras menjabarkan dari banyak arah pandang, ia terkesan objektif. Tapi, perasaan benar-benar subjektif. Dari sana akan sulit menemukan yg benar, karena terlihat samar. Mungkin memang itu harga sebuah kebenaran : sulit tergenggam._Jon Q_ 

"Tapi kenyataannya, hidup tak selalu sepuitis itu, Jon," kata Dul sore itu.
Mereka berdua baru saja pulang dari rumah Bet, yg menjalin ikatan baru lagi setelah kemarin gagal. "Seringkali aku berpikir, apa yg banyak kita perbincangkan tentang hidup, kebenaran, dan cinta, itu seakan omong kosong. Hidup lebih sering hambar, daripada romantik seperti yg sering kita bahas,"

Jon terdiam sebentar. 

"Emm.. Kau tahu, apa kemungkinan yg terjadi ketika suatu hal berharga diberikan pada orang awam?" 

Kali ini Dul yg terdiam. Ia berpikir sebentar. 

"Seperti seekor ayam yg diberikan sebongkah berlian?" Dul tanya balik. Bahasa majas. 

Jon mengangguk. 

"Itu konyol," 

"Demikianlah pemikiran kita," kata Jon. "Sangat lebih baik kita diam di tengah orang-orang yg tak mau meninggikan jiwanya, membesarkan pikirannya. Lalu ucapanmu itu pun benar, hidup ini terasa hambar, tanpa sisi romantik yg terus hidup, dan yg terjadi hanya 'transaksi jasadiyah'. Mana mungkin seekor ayam mengerti tentang berharganya emas," 

"Kadang kalau aku lihat foto-foto kita semasa SMA, rasanya belum bisa aku merenungkan masa depan," lanjut Dul. "Buru-buru benar waktu membawa kita meninggalkan masa itu. Semua tumbuh, berubah, dan kemudian hilang. Rasanya belum siap aku membayangkan ketika kita tak di sini lagi. Dunia ini begitu indah," 

"Itu yg kita sebut romantik, pikiran yg selalu tersegarkan ketika mengenang masa lalu," tambah Jon. "Aku sendiri berharap, jika Tuhan memberi umur panjang dan keluarga yg utuh padaku, jangan pernah Ia pertemukan aku, istriku, atau anak-anakku dengan mereka yg pernah aku tinggalkan. Bukan karena aku akan malu, tapi logika yg melihat dari banyak arah pandang, mengatakan aku benar. Bukan karena aku akan malu, tapi aku takut mereka merasa terlalu bangga dengan sikapku di masa lalu itu," 

Dul tertawa pelan. 

"Semacam kekhawatiran, anak-anak mereka bertanya mengapa ibu mereka meninggalkanmu? Hehe," Dul tertawa lagi. "Jon.. Jon, seperti tadi aku katakan, hidup tak selalu sepuitis itu," 

"Dan kita harus merelakan tiap orang dalam kebahagiaannya masing-masing," tambah Jon. "Aku hanya merasa sayang, untuk melupakan betapa tangguh aku saat itu," 

Mereka tertawa bersama. Bet akan menikah akhir tahun ini, sedang Jon dan Dul menyusul beberapa bulan setelahnya. Sedang persahabatan mereka, akan selalu semanis masa muda, meski usia mereka menua. Dan sadar saatnya berpisah akan tiba.

No comments:

Post a Comment