Lebaran dan Permen (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, June 27, 2018

Lebaran dan Permen (esai)

"Yah, kenapa lebaran gak di awal aja, ya? Sebelum ramadan, gitu. Jadi sebelum puasa, kita lebaran dulu," tanya si Jon kecil. 

Jon terhenyak. Ia tak selalu mampu menjawab pertanyaan dari anaknya sendiri. Memang, terkadang pukulan paling berat itu muncul dari arah yg tak pernah disangka-sangka. 

"Kok diem, Yah?" tanya Jon kecil lagi. 
"Emm.. Ayah tak bikin kopi dulu, ya?" Jon berdalih, mengulur waktu. 

Sambil jalan ke dapur, Jon merenung, berbincang sendiri dengan hatinya. 

"Kenapa dinamakan lebaran?" 

"Karena, itu doa agar hati kita lapang, setelah berpuasa. Dari bahasa melayu, 'lebar', lapang. Makanya dikumandangkan takbir, Allahu Akbar, Allah maha besar, 'maha lapang'," 

"Itu mungkin alasan di kampung-kampung ada tradisi 'unggah-unggahan', ya? Sebelum berpuasa saja kita sudah senang - dibuktikan dengan tradisi itu." 

"Beda lagi dengan bahasa jawa, lebaran disebut 'bada'. Dari kata 'Ba'da', artinya setelah, selesai. Sambungan kata 'ba'da', ibad, ibadah. Maka bulan setelah ramadan adalah syawal, artinya peningkatan. Jadi, 'bada' itu adalah peningkatan ibadah," 

"Tapi mengapa idul fitri (kembali pada kesucian) bukan di awal ramadan? Bukankah ramadan itu 'pembersihan', dengan puasa, lalu zakat?" 

"Ulaa-ikaladzinasy tarowul hayatid dunya bil akhiroh," satu ayat terdengar di kepala Jon. "Itu pelajaran, agar kita tak membeli dunia dengan akhirat, tak menukar kesenangan di akhir untuk dinikmati di awal. Wa al akhirotu khoiru laka minal ula, kesenangan ada di akhir, mereka yg menipu diri agar kesenangan berada di awal, akan merasakan akhir kehidupan dengan penderitaan : karena kesenangannya telah dihabiskan di awal usia," 

Jon membawa dua cangkir kopi. Satu untuknya, dan satu lagi untuk si kecil. Apa saja yg Jon suka, anaknya pun mengikutinya. Termasuk suka bertanya. Tak heran ia sering kebingungan dengan pertanyaan yg nampak sederhana. 

"Apa penjelasannya, Yah?" 

"Lebih enak mana, permen yg awalnya asam, tapi lama kelamaan jadi manis. Atau permen yg awalnya manis, tapi lama kelamaan jadi pahit, jadi habis?" 

"Enak yg pertama dong, Yah," 

"Itu jawabannya," 

Dasar si Jon tukang 'balas dendam'. Giliran si kecil yg berpikir keras menafsirkan analogi permen itu.

No comments:

Post a Comment