Orang-orang berilmu I - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, June 4, 2018

Orang-orang berilmu I

Perempuan-perempuan yg kurang berilmu dan tak mau mendalami keilmuan bersama suaminya akan sangat lebih mencintai uang, daripada suaminya. Dan laki-laki yg kurang berilmu lalu tak mau mendalami keilmuan dengan akalnya, akan menjadikan pernikahan hanya sebagai salah satu permainan yg suka ia lakukan di saat mudanya._Jon Q_ 

Si Jon masih mengaji shorof malam minggu itu, saat ia mendapat sms dari teman kerjanya. Seperti diskusi akhir Agustus lalu, ia ingin melanjutkannya dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. 

"Nanti ta sms lagi," balas Jon. "Lagi ngaji nih," 

"Oh, ok, santai brew," balas temannya lagi. 

Berbeda dengan anak-anak muda lainnya yg menikmati malam minggu dengan gadis-gadisnya, si Jon malah berangkat mengaji. Setelah mengaji, dia bersama seorang teman mengaji (tapi beda kajian, jika si Jon belajar bahasa arab, temannya itu belajar tajwid), berdiskusi. 

"Kalau setan dan iblis itu termasuk makhluk atau apa, tadz?" tanya teman Jon. Sedang si Jon merasa tersinggung saat temannya bilang 'setan' sambil menepuk lututnya. 

"Uasyem, gua bukan setan. Gua alien." kata Jon. Mereka tertawa. 

"Setan itu sifat, iblis itu setan yg tertinggi," kata ustadz. "Makanya dalam qur'an, innahu aduwwum mubin, dia, setan, itu musuh yg abadi, nyata, sampai kiamat ada. Jin dan manusia akan mati, tapi setan tetap ada. Jika nafsu manusia tergoda setan, manusia akan menuhankan keinginannya. Jika akal manusia tergoda setan, maka logikanya akan menjauh dari kebenaran. Dan rasa atau hati yg tergoda setan, akan dipenuhi ketakutan, kesedihan, yg menjadikan penyakit hati : iri, benci, dendam, dll. Dalam qur'an 'tajriy min tahtihal anharu kholidina fiha abada, la khaufi wa la hum yahzanun, mengalir di bawahnya sungai-sungai, abadi di dalamnya tanpa rasa takut dan kesedihan. Itu bagi orang-orang yg berhasil melawan sifat itu - setan. Lawan sifat itu, adalah 'salih', sholeh. Makanya orang salih itu setelah dihisab, langsung masuk surga sesuai ibadahnya. Tapi orang berilmu, tidak," 

"Lah, kok orang berilmu tidak langsung masuk surga, tadz?" tanya Jon. 

"Karena dengan syafaat (pertolongan) dari Allah yg diberikan pada rasululloh, itu diteruskan syafaat itu pada orang-orang berilmu," jelas ustadz Jon. 

"Jadi orang-orang berilmu tak langsung masuk surga untuk memberi syafaat pada orang-orang yg mengikutinya?" tanya Jon lagi. 

"Iya," 

"Ooh.. Mungkin itu pepatah atau hadits, yg bilang 'guru itu satu tingkat di bawah nabi derajatnya', ya?" 

"Em, itu mau'dhat, kata mutiara, bukan hadits. Dan bukan guru, tapi orang-orang berilmu." kata ustadz. "Emm.. Kamu yg kemarin menikah dengan anaknya Pak Fulan di RW sebelah, ya?" tanya ustadz. 

"Oh, bukan, tadz. Itu kakak perempuan saya," jawab Jon. "Kalau saya masih jomblo," 

Mereka tertawa. 

"Jomblo aja bangga?" ledek teman Jon. 

"Diem lu. Sama aja jomblonya juga," 

Mereka tertawa lagi. 

"Kenapa belum menikah?" tanya ustadz. 

Hening. 

Jon bingung menjawab apa. Ustadznya sangat paham kondisi keluarga Jon, yg bahkan menjadikannya agak segan mengajari pemuda kerempeng di depannya. Jika santri yg lain dibiarkan mencium tangan beliau, tidak untuk si Jon. Entah segan, entah si Jon terlalu najis. Tapi, sepertinya alasan yg kedua lebih mungkin. 

"Saya tidak memiliki apa-apa untuk berrumah tangga, tadz," Jon jujur. "Orang melihat saya seorang kepala sekolah. Tapi yg akan menikah bukan kepala sekolah, yg akan menikah adalah Jon Quixote. Kepala sekolah hanyalah baju, yg harus ditanggalkan di hadapan Tuhan," 

Ustadz tersenyum. 

"Dulu rasul juga begitu," kata ustadz. "Pelayan Khadijah, Khufaiyah, bertanya pada Muhammad, 'Wahai Muhammad, mengapa engkau belum menikah?' jawab nabi, 'Aku tak punya apa-apa untuk berumah tangga,' karena upah dagang rasul dibagi-bagi pada anak-anak yatim dan fakir miskin. 'Bagaimana jika ada wanita cantik, terhormat, kaya, yg menginginkanmu?' kata Khufaiyah. Jawab rasul, 'Siapa dia?' jawab Khufaiyah, 'Khadijah,' rasul bertanya, 'Bagaimana aku menikahinya?' kata Khufaiyah, 'Serahkan padaku,'. Khadijah menginginkan sang nabi karena kejujurannya, pengorbanan di masyarakat yg tanpa pamrih, kerendahan hatinya, dan kecerdasannya yg tak membuatnya bangga."

#ngopi    #kopiesai

No comments:

Post a Comment