Pinangan (2) (esai cinta) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, June 30, 2018

Pinangan (2) (esai cinta)

Judul yg pertama, sudah aku ceritakan di blog. Ini, kisah pinangan si Jon yg kedua. 

"Papa punya calon, dia eksekutif muda. Mama juga punya calon, PNS di pemerintah kota. Aku juga punya calon buat aku sendiri : kamu. Bisa datang 'kan hari ini?" kata gadis si Jon dari balik telepon. 

"Iyah, insya alloh," jawab Jon bimbang. Ia disepadankan dengan pria super mapan daripada dirinya. 

Setengah jam, si eksekutif dan si PNS sudah sampai di rumah sang gadis. Tapi, Jon belum terlihat bahkan batang hidungnya yg panjang. Sepuluh menit kemudian, Jon akhirnya sampai juga. Pemandangan yg sangat bertolak belakang di halaman rumah sang gadis. Mobil toyota rush hitam milik si PNS, motor CBR terbaru milik si eksekutif. Dan motor butut si Jon yg sudah sepuh, juga sering kena encok alias mogok. Jon cuma pakai batik lebaran, pemberian bibinya. Kontras dengan rambut punk-rock hasil cukuran sohibnya sebelum lebaran. Si eksekutif dengan kemeja berdasinya, dan si PNS dengan keki dinasnya. Ini hari pertama masuk kerja setelah cuti lebaran. 

"Lama sih? Mau aku message BBM, kamu kan gak punya. Mau aku telepon pulsaku habis," kata gadis si Jon di depan rumah. 

"Iyah, maaf. Mogok, ini kotor semua tangan. Bersihin busi," kata Jon tanpa ekspresi. 
Sang gadis tersenyum aneh, "Ya udah, ayuh masuk," 

"Sebentar," Jon menengadahkan tangan, berdoa di depan pintu masuk. 

"Doa biar kamu yg terpilih yah?hehe," kata sang gadis. 

"Rasanya ngga adil kalau aku minta Tuhan buat menghapus kesempatan orang lain untuk menjadi suamimu," jawab Jon. 

"Trus, doa apa?" 

"Aku cuma berdoa, semoga Tuhan mengizinkanku tak menangis saat aku tak tertakdir denganmu," 

Mata sang gadis berkaca-kaca. Bibirnya tersenyum. 

Kisah ini menggantung. Sengaja, agar pembaca membuat ending sendiri-sendiri. :)

No comments:

Post a Comment