Satu kehidupan untuk satu sejarah (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, June 19, 2018

Satu kehidupan untuk satu sejarah (esai)

Hidup ini semacam proyek 'do it for yourself'. Seperti penjelasan fisika, segala sesuatu memantul kembali pada diri sendiri. Tak mungkin seseorang memanen apa yg tak pernah ia tanam. Kecuali, ia pencuri._Jon Q_ 

Seorang tukang kayu meminta pensiun pada bosnya. Usianya sudah cukup senja, tapi ia diandalkan oleh bos tersebut. 

"Saya tak ingin melepas anda sebenarnya, karena anda sangat saya andalkan," kata si bos. "Tapi jika memang itu sudah bulat, tak bisa diubah, baiklah. Saya tak bisa memberi pesangon yg besar, tapi sebelum pensiun saya ada satu proyek untuk anda. Saya yakin anda bisa melakukannya dengan baik," si bos meminta dibuatkan rumah dengan desain dan hiasan menurut kreativitas pegawainya itu. Ia membiayai total pendanaan rumah tersebut. 

Merasa hanya akan mendapat pesangon kecil, dan disuruh membuat rumah sebelum pensiun, si pegawai mengakali pembiayaan agar ia mendapat banyak lebihan. Bahan-bahan, peralatan, properti, ia beli yg murah, berkualitas rendah, tapi meminta dana lebih besar kepada bosnya. 

Setahun, seperti permintaan, rumah itu selesai. Si pegawai menyerahkan kunci rumah itu pada bosnya. Tapi yg terjadi sebaliknya, si bos menghadiahkan rumah itu untuk pegawai tersebut. Pengetahuan barangkali membebani pikiran, tapi hidup dengan kebodohan bukanlah pilihan yg terbaik. Sialnya, manusia seringkali susah memastikan, hidupnya ini atas dasar ilmu ataukah kebodohan yg menyamar sebagai kecerdasan. 

Hidup ini, untuk sebagian besar orang hanya berlangsung satu kali. Setelah kehidupan selesai, seseorang meninggalkan kisah, menyisakan sejarah. Barangkali tak ada nasehat yg paling baik selain kisah masa lalu banyak manusia sebelum kita. Nasehat yg tulus, tanpa harus kita mengikutinya. 

Ada jenis nasehat yg tulus, dan ada juga jenis nasehat yg tak tulus. Bedanya, nasehat tulus benar-benar untuk kita, agar kita menjadi lebih baik, menjadi diri kita sendiri. Sedang nasehat yg tak tulus, ia memaksa kita mengikuti itu. Dan jika tak mengikuti, ia yg memberi nasehat akan marah. 

Sejarah masuk dalam nasehat yg pertama. Ia tak pernah memaksa seseorang mempelajarinya. Hanya saja, ia yg tak belajar darinya, sudah dipastikan hidupnya tak beda dengan binatang : makan, tidur, beraktivitas, tidur lagi, lalu mati. Tanpa meninggalkan kisah besar. 

Tentang penyesalan seperti kisah di awal, semakin muda kita, kemungkinannya semakin bodoh kita. Dan tindakan yg sebaiknya kita lakukan adalah belajar, melihat kemungkinan yg akan terjadi. 

Kita hanya menjalani satu kehidupan, untuk satu sejarah. Ia yg membangun namanya selama hidup, akan terlihat kebesarannya ketika ia telah tiada. Dan kita, apa yg akan dikisahkan nanti?

No comments:

Post a Comment