Selimut kesombongan (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, June 12, 2018

Selimut kesombongan (esai)

Jika engkau adalah samudera terdalam, selama ini aku mengira telah mulai tenggelam. Tapi kini aku tersadar, aku hanya menatap horison pantai dari kejauhan. Wallahu yahdiy qoumudz dzolimun. Selimut kesombongan ini benar-benar menghangatkan. Menidurkanku dalam kebodohan tentang engkau yg tak akan pernah dimengerti dengan akal._Jon Q_ 

Empat tahun sudah pertama kali Jon ucapkan di tengah-tengah keluarganya yg agamis, "Bahkan pada Tuhan pun aku sudah tak berharap lagi," baru hari-hari ini dimengerti oleh beberapa anggota keluarga yg lain. 

Si Jon bercerita di tengah keluarganya, tentang seorang bos wiraswasta yg berkata akan membantu sekolahnya. Tapi, beberapa bulan lalu ia terputus komunikasi, dan tak bisa menghubunginya lagi. Ibu Jon langsung saja menanggapi, "Kamu bukannya sudah tak berharap lagi, bahkan pada Tuhan?" 

"Untuk diriku sendiri, iya," kata Jon. "Tapi untuk kepentingan banyak orang, aku masih berharap," 

Rasanya benar-benar aneh, ketika pertama kali Jon memasuki pemahamannya yg 'sesat' itu. Tak berharap lagi pada Tuhan? Lalu kenapa kau tetap beribadah, bekerja keras, terus belajar, dan....hidup? 

Jaman kuliah dulu, ia sering diminta temannya buat nongkrong sejenak di kantin kampus. Tapi, ia lebih sering menolaknya. Ia berpikir, seperti kehidupan, masa yg ia lewati disana akan berakhir. Ia harus pulang, membuktikan pada orangtuanya tentang pembelajaran yg ia dapatkan disana. Seperti kehidupan, ada saatnya menikmati dunia, dan ada waktunya kembali pulang pada yg Esa. 

"Apa yg kau takutkan sekarang, Jon?" tanya dirinya yg terdalam. 
"Ketika aku telah tak melihat dunia ini seperti sebelumnya," 
"Mengapa kau takut akan itu?" 
"Jika aku tak melihat dunia ini seperti ketika aku melihatnya di masa yg lalu, seperti banyak orang melihatnya, maka aku akan lupa membedakan manakah hidup yg benar-benar nyata? Belumkah aku termasuk telah mati ketika aku sampai pada penglihatan itu? Bukan dosa yg terlihat yg aku takutkan, tapi dosa yg aku bahkan tak sadar telah berkali-kali melakukannya,"

#ngopi    #esai

No comments:

Post a Comment