Suicide (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, June 16, 2018

Suicide (esai)

Keimanan yg kuat lahir dari keraguan yg sangat menyakitkan. Manusia tak akan bertemu Tuhannya, selama ia belum 'membunuh dirinya'. Karena dihadapan-Nya tak ada diri-diri yg lain. Mencapai pemahaman yg paling menyakitkan : keyakinan manusia tak berpengaruh pada-Nya._Jon Q_ 

Kisah Sisifus mirip dengan dongeng filosofis Sun Go Kong dari Tiongkok, dan lebih mistis lagi dengan kisah teosofis Bima ketika bertemu dengan Tuhannya.
Jika Sisifus harus di hukum dengan membawa batu besar ke atas gunung, yg pada akhirnya batu itu jatuh lagi, lalu mendaki lagi, terus begitu tanpa akhir, maka kisah Sun Go Kong lebih 'sederhana'. Setelah mengobrak-abrik kahyangan - beda dengan Sisifus yg menipu Tuhan, dia langsung dihukum penjara dihimpit bukit.
Ia simbol keganasan idealisme yg menantang kemapanan penguasa, sedang adiknya, si Babi, adalah simbol kerakusan pada dunia. Adiknya lagi, adalah simbol kebodohan, atau dari sudut pandang sebaliknya, ketaatan mutlak tanpa tanya. Sedang perjalanan ke barat adalah proses penyucian diri, tanpa mereka sadari, bahwa gurunya adalah seorang dewa berwujud manusia, yg pada akhirnya mereka juga akan menjadi itu. 




Kisah Bima lebih mistis, karena proses 'pembunuhan diri' dari petualangan derita tujuh ruang dan waktu. 

"Aku putus asa, Tuhan," kata Bima, air mata kelelahan mencari-Nya membasahi wajahnya. 

"Mengapa kau kira Aku tak merasakan itu? Siapa yg menangis? Milik siapa tangis itu?" 

"Pada siapa doa-doa ini? Untuk-Mu ataukah untukku sendiri? Jika doa ini kepada-Mu, mengapa itu sampai padaku?" 

"Engkau bukan Aku ketika engkau menjadi dirimu. Dan Engkau adalah Aku ketika engkau 'membunuh dirimu' dihadapan-Ku. Melampaui perasaan, pikiran : kembali menjadi kekosongan,"

No comments:

Post a Comment