Varia (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, June 27, 2018

Varia (esai)

Idiom yg mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk lemah - jikapun itu benar, adalah perwakilan dari kenyataan sesungguhnya seorang manusia. Tapi, barangkali ada, paradoks yg lebih tinggi dari itu. Mereka, orang-orang berkasta 'varia', banci, bencong, orang-orang yg memilih lari dari dirinya sendiri, menganggap menjadi orang lain itu akan membuatnya bahagia._Jon Q_ 

Jika mereka adalah simbol kepengecutan seorang pria, setidaknya mereka jujur. Mereka menunjukan diri, bahwa mereka adalah barisan pengecut. Daripada kita, para pria yg menganggap pemberani, tapi tak berkutik ketika kerusakan di depan mata terjadi. Kita mencintai kejujuran, tapi ketika kejujuran berlumur lumpur - terlihat buruk, seperti para varia itu, kita munafik. Membenci kebohongan, dengan cara menyimpan dalam-dalam di hati kita : mendarah daging. 

Kasta brahman, hanya untuk mereka yg tak turun lagi berperang. Karena berperang diberikan tugas itu pada kasta ksatria. Orang-orang gila, yg tak pernah jera mengorbankan dirinya dalam perjuangan. Orang-orang yg ditertawakan kasta waisya, karena kesanggupannya berperang tak mereka gunakan untuk mengumpulkan harta. Tapi apa guna banyak harta, jika hidup mengesampingkan mereka yg teraniaya, para kasta sudra, dan varia : budak. 

"Jangan percaya si Jon, tahu apa dia?!" seru seorang senior pada yunior mahasiswa saat Jon kuliah dulu. "Orang stress begitu kok diikuti," 

Siapa yg tak menertawakan si Jon saat itu? Adik-adik kelasnya merasa jijik, melihatnya sebagai senior yg aneh, tak waras. Teman-teman angkatannya tak bisa berhenti merindukan aksinya yg nyeleneh, tak normal. Dibenci ketika dekat, diinginkan ketika jauh. Para senior meremehkan, belajar filsafat sedalam apa sih dia, sedang mereka (para senior) yg lulus kuliah tujuh tahun saja tak gila-gila amat. 

Tapi begitulah orang-orang bodoh menertawakan kecerdasan. Karena pada akhirnya itu terbalik. Tawa mereka menjadi sesal, sedang Jon yg ingin menertawakan mereka di masa ini, eskpresinya datar. Senang, tidak. Sedih pun, tidak. 

Seperti ayam-ayam yg menertawakan elang di kumpulannya. Para ayam tak tahu dia elang, ditertawakan tak bisa berkotek, juga berkokok. Pertanyaannya mungkin mengapa elang ada di kumpulan para ayam? Siapa yg menyuruhnya ke sana?

No comments:

Post a Comment