Api (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, July 6, 2018

Api (esai)

Api... Api... Aa..pi kita sudah menyala._laguapiunggun_ 

"Ibrahim tak bisa dibakar api, karena 'api' di dalam dirinya sudah padam," kisah Jon pada temannya, si Bet. "Itu mengapa, dia baru bisa memiliki anak sampai di usia senja, karena 'api' (nafsu) di dalam dirinya telah mendingin," 

"Pasti sakit benar, ya, pencarian jati diri yg dilakukannya saat muda," Bet menanggapi. "Proses pencarian Tuhan yg sangat melelahkan," ketika Ibrahim menyangka bahwa Tuhannya adalah bulan, bintang, dan matahari. Terbukti, prasangka manusia memang lebih sering mengecewakan. 

"Itu mengapa dia mendapat sebutan dari Allah, sebagai 'khalilullah', teman Allah. Karena ia tak percaya lagi pada siapa-siapa selain Tuhannya," kata Jon. 

"Mungkin itu ya, resiko berjuang di jalan Tuhan," Bet menambahkan. "Berteman kesepian, selalu bersiap ditinggalkan kawan." 



"Api melambangkan perjuangan, tapi ia tak mampu membakar Ibrahim," kata Jon lagi. "Mana mungkin api yg takut pada Tuhan, melukai teman Tuhan : khalilullah," 

"Barangkali itu melambangkan kesucian jiwa Ibrahim ya, Jon?" Bet menanggapi. "Terkadang aku pikir, mengapa kita harus berdzikir 'subhanallah', maha suci Allah - dari diri kita ini, karena memang hanya Dia yg suci. Sedang kita ini kotor, dan saling bertarung dalam kekotoran. Bedanya, ia yg berdzikir itu, sekotor apapun ia bermain, ia akan menggunakan kemenangannya untuk mensucikan diri dan orang banyak. Sedang mereka yg tenggelam dalam kekotoran, akan dibersihkan oleh api di neraka seperti besi berkarat," 

Jon tersenyum. 

"Cerdas," katanya. "Itu mengapa Musa juga melihat api di bukit Tursina sebagai simbol Tuhan, sekaligus perjuangan melawan Fir'aun. Ia bahkan harus melepas sendalnya ketika mendekat pada api itu, simbol bahwa siapa saja yg melakukan perjuangan, ia harus mensucikan hatinya dari segala keburukan," 

"Aku merenung begini, Jon," Bet beranalogi. "Fir'aun itu kekuasaan negara-negara induk, dan kita adalah bangsa israel yg berada di dalam negara-negara satelit. Anak laki-laki kita dibunuh semua oleh mereka lewat media, pendidikan, gaya hidup. Laki-laki yg seharusnya memiliki kecerdasan pikiran, keberanian mental, dan kesucian hati, kini langka. Laki-laki hanya penampilan luar, sedang mentalnya mental perempuan. Sedang bayi-bayi perempuan dibiarkan hidup. Lihat sekarang, siapa yg menguasai media? Iklan-iklan? Dulu yg nongkrong di pinggir jalan para pria, sekarang perempuan. Mereka menguasai hampir semua pusat-pusat kehidupan masyarakat," 

Jon terbengong. Tak menyangka, Bet, teman kecilnya yg pulang lebaran ini dari Cina, memiliki pemikiran yg tak kalah dengannya.

No comments:

Post a Comment