Dua tahun itu belum apa-apa, cinta - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, July 14, 2018

Dua tahun itu belum apa-apa, cinta

Bahkan, mengenalku dengan rahasia-rahasia yang Tuhan berikan padaku pun, kamu belum, cinta….

Bahwa banyak yang aku rahasiakan tentang diriku padamu, itu tentu saja. Bukan karena aku egois – yak, kamu boleh menilaiku dari sudut pandang itu, tapi karena belum  saatnya. Lalu kapan? Mudah-mudahan, sebentar lagi ketika kewajibanmu di kampus itu selesai. Keluarlah dari kurungan itu, lalu engkau akan tahu aku ini burung yang memiliki sayap seperti apa.



Aku berani menjaminmu, cinta, di jaman ini kamu akan kesulitan menemukan seorang pria yang hidup dengan visi besar dalam hidupnya. Dan tentang pernikahan kita, tentu, aku punya visi untuk itu. Bukan sebatas menyatunya dua keluarga, dua jiwa, dua cinta – selama dua tahun itu, tapi tentang menciptakan suatu generasi yang unggul : para primus interpares. Dan kita tahu, akan ada jalan panjang dan melelahkan untuk mencapai itu. Di manapun aku berada, akan aku lahirkan generasi-generasi petarung, generasi-generasi tangguh, yang tak mudah dilemah-kalahkan oleh zaman yang semakin edan. Karena, ketika Tuhan  ‘menciptakan’ kekacauan, maka Dia juga yang akan menciptakan hamba-hamba pemberani untuk merapikan kekacauan itu. Dan aku ingin – harus, menjadi bagian dari mereka : hamba-hamba rabbani. Jika tidak, untuk apa aku diciptakan ke dunia ini, cinta? Aku tak mau menjadi manusia remeh di hadapan-Nya.

Dua tahun ini belum apa-apa, cinta. Kita belajar berjalan pun belum. Kita masih merangkak, belajar berucap, dan banyak-banyak mengamati, mendengar, apa yang memang seharusnya kita pelajari. Kamu boleh marah padaku, benci, dan segala sifat gelap yang aku jamin sekuat tenaga aku tak akan melakukan itu padamu. Kamu boleh mengeluh, membangkang padaku, tapi jangan terlalu lama. Karena jika kamu tak segera mengendalikan hatimu, aku takut musuh abadi manusia – setan – yang akan menuntun hidupmu selanjutnya.

Dua tahun ini aku, kita belajar banyak hal. Dan Tuhan pun malam kepulanganku darimu, akhirnya membuka pintu – hijab – Nya. Membuatku kini benar-benar melihat diriku di atas diriku sendiri. Aku seperti seekor kuda yang dikendalikan oleh seorang kusir. Jika malaikat adalah kuda-kuda yang ditutup matanya, sedangkan kita, manusia, mata kita dibiarkan terbuka. Dan aku kini mengerti, kuda dan kusir itu adalah satu, tapi engkau tak bisa mengatakan kuda adalah kusir. Itu dua hal berbeda. Kini seakan aku duduk di atas takdirku sendiri. Melihat jalan-jalan pilihan takdir, mana yang boleh, tak boleh, dan seharusnya aku pilih. Cinta, aku tak akan memaksamu untuk buru-buru menaatiku – aku paham aku ini ‘aneh’ (misterius). Aku hanya ingin kamu terus bertahan mengikuti aku, sekalipun pikiranmu meminta untuk lari ke tempat yang menurutmu lebih nyaman.

Tak mungkin kita berani menghitung-hitung apa saja yang telah Tuhan berikan, dan apa saja yang Tuhan belum atau bahkan tidak berikan pada kita. Jangan pernah memaksa-Nya. Doamu untuk dipersatukan denganku telah dikabulkan-Nya. Kita dianugerahi jagoan yang sangat mungkin kita membayangkan akan ‘sebahagia’ ini pun tidak. Kita diberikan banyak hal, tapi selalu saja hati kita berada di tempat lain ketika Tuhan ‘datang’.
Dua tahun ini belum apa-apa, cinta. Selama aku sehat dan masih diberikan usia, jalan yang Tuhan tunjukan saat ini akan terus aku daki, seterjal apapun itu. Kamu masih ingat, sebelum aku dating ke rumahmu dulu aku sering berkata :

Pasti kamu akan sangat terkejut
Duniaku di sana adalah pertempuran
Jika aku seorang ksatria berkuda
Membawamu serta dalam perang di atas kuda-ku
Adalah resiko besar
Bukan berarti aku tak sanggup
Tapi aku tak mau engkau terluka di sana

Sampai saat ini, pertempuran itu pun masih berlanjut. Jangan bertanya kapan usainya, tapi siaplah selalu dengan kekuatan besar yang kita tanam setiap saat. Jangan pernah berdoa pada Tuhan agar hidup kita dimudahkan. Tapi berdoalah agar Dia menguatkan kita. Agar ‘punggungku’ yang di atasnya berada banyak manusia yang aku jaga, selalu tangguh tegak tak terjatuh apapun pukulan yang aku terima nantinya.

Dua tahun ini belum apa-apa, cinta. Fokuslah pada kewajibanmu disana. Didik jagoan kita dengan cinta, seperti aku mendidikmu dari pertama kali kita bertemu. Terulah bertahan di sana, karena aku tak akan memaksamu untuk memasuki medan tempurku di sini. Satu yang pasti, aku tidak melupakan kalian.







Mungkin jalan yang ku lalui ini adalah jalan kesunyian

Untuk Tuhan dan mengikuti manusia paling mulia sepanjang zaman

Hijrah dari keinginan dan rasa senang yang melalaikan

Asing terasa di hadapan manusia dan di tengah dunia

Mencintaimu tanpa kecemasan

Mencoba selalu jatuh cinta padamu tanpa keinginan

Akan seperti apa takdir kita di masa depan

Di hadapan Tuhan semua kan aku pasrahkan


Jangan pernah merasa cinta itu berkurang

Akan terus tetap seperti ketika pertama kita saling menatap

Visi besar yang berada di hadapan harga diriku

Akan menjadi rasa bangga untukmu yang menemani hidupku


Apa yang menjadi mimpi-mimpi itu

Lambat perlahan akan kesana kita berjalan

Fokus dan tetaplah erat kau genggam tanganku

Apapun yang terjadi nanti

Ramai atau sunyi jalan yang ku pilih nanti

Itu menjadi jalan yang Tuhan tunjukan

Dengan taat atau terpaksa

Zuhud mungkin menjadi jalan satu-satunya

Yang kan membedakan kita ada di golongan kiri ataukah kanan*

Happy Anniversary, cinta
Sabtu, 14 Juli 2018
*Al-Balad ayat 18

أُولٰٓئِكَ أَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ

Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.

@Ruang Tugas Sekolah Kecil kita☕😘

No comments:

Post a Comment