Go on, Jadilah Pemberani (Esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, July 26, 2018

Go on, Jadilah Pemberani (Esai)

3 Juni 2015 pukul 19.04
Jadilah pemberani. Hanya seorang penakut yg tak mau jatuh cinta terus menerus dengan cara yg benar. Biarkan mereka yg awam pergi, untuk seorang yg tak mau kalah oleh rasa takut, mereka tak layak menjadi takdirnya._Jon Q_ 
"Minggu kemarin aku berkunjung ke seorang teman lama," Jon bercerita. "Ia anak seorang kontraktor proyek. Selalu dibanggakan dengan harta, tapi tak membuatnya lupa teman-temannya. Dua bulan yg lalu, dia bercerita sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Di kantor, ia selalu bekerja cepat, menyelesaikan tugas-tugasnya demi bertemu dengan gadis itu. Semua ia lakukan, betapa senang, demi gadis pujaannya. Aku rasa, tak ada alasan bagi perempuan itu untuk tidak bahagia," pandangan Jon menerawang. Sebelum melanjutkan ceritanya, di matanya tampak air mata yg tertahan. 


"Tapi hari itu, entah apa yg bisa aku lakukan untuknya. Ia.. Ia dalam dilema besar," 

"Dilema apa, Jon?" tanyaku. 

"Gadis pujaannya jatuh cinta pada orang lain, seorang kontraktor muda, kaya, dan yg paling menyakitkan kau tahu?" 

"Apa?" 

"Dia seorang lelaki yg sudah menikah," Jon mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Nampak kesedihan yg dalam, tanda kegelisahan memikirkan kisah cinta sahabatnya itu. 

"What the f*ck?! Perempuan itu jatuh cinta pada lelaki yg sudah punya istri? Tapi, tapi, si laki-laki itu tak meresponnya, kan? Katakan dia tak merespon gadis itu, Jon?" aku terbawa perasaan. 

"Sebaliknya, mereka menjalin komunikasi di belakang sang istri," 

Kami berdua menghela nafas panjang. 

Aku tahu seperti apa dilema itu. Mencegah si gadis agar tak menjalani 'cinta yg salah', itu egois. Ia akan teranggap memaksa, dan mengemis cinta. Tapi jika ia biarkan, pengalaman yg sudah-sudah, perempuan seperti itu kelak menjadi wanita tak punya harga diri (wanita 'murahan'). 

"Lalu, apa yg kau lakukan pada temanmu itu, Jon?" 

"A-, aku...entahlah. Aku tak bisa membayangkannya. Temanku itu nampak semakin kurus, tubuhnya terlihat lemas, matanya sayu. Aku-, aku, tak tahu harus berbuat apa."

No comments:

Post a Comment