Menggoda setan dengan mesra - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, July 22, 2018

Menggoda setan dengan mesra

10 Juni 2015

Mari, sini, duduk di sisiku. Aku tak seperti mereka yg menolakmu - syayatin, tapi dengan tenang tetap mengotori hatinya oleh kebencian, dendam, kemarahan, pamrih, menganggap lebih suci dari yg lain. Mari, sini wahai setan, aku tak melihatmu. Tapi bisikanmu, bahkan lebih jelas dari kumandang adzan._Jon Q_ 

Orang-orang satu RT berlarian menyerbu poskamling. Malam dini hari, mereka terbangun oleh suara gaduh. Jon yg baru saja mampir ke dunia mimpi, harus pulang kembali ke dunia nyata. Di poskamling, terlihat seorang bapak setengah baya dengan tubuh babak belur. Suara riuh bisik warga menggaung. 

"Ih, kasian. Dia habis maling apa?" 

"Rasakan. Dasar maling," 

"Makanya, jangan berani-berani nekat di desa ini," 


Jon geregetan. Ia bertanya pada Pak RT setengah teriak. 

"Siapa yg memukuli dia, Pak?!" 

Pak RT diam. Dia tahu, apa maksud pertanyaan si Jon. Warga paham, Jon seorang terdidik. Ia akan memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan memberontak dan gugatan, di mana ada kebodohan yg terwujud di dekatnya. 

"Siapa? Siapa yg memukuli dia?!" Jon marah. Tak peduli lagi tentang kesopanan membentak orangtua, atau teranggap belagu. 

"Mencuri itu perbuatan buruk, tapi siapa yg berani menganggap dirinya mulia setelah memukuli bapak ini? Pencuri harus dihukum, tapi siapa yg berani bangga dengan perlakuan ini?" 

Warga diam. Sebagian menggumam mengejek, sebagian mencoba paham. Jon terlihat seperti kakeknya dulu, yg justru memberi uang pada pencuri yg tertangkap tangan. Melakukan tindakan di luar keumuman, menunjukan keistimewaan sisi lain yg ia punya. Sisi lain yg ia dapatkan saat masih muda. Ketika ia terus melawan, apa saja yg tak sesuai dengan kehendak hatinya. Menaklukan pikiran, dengan cara menaklukan godaan setan. 

Engkau memintaku marah 
Tapi bagaimana aku bisa marah pada mereka yg menghina 
Bisikanmu membuatku nyaman 
Hingga aku lupa ada orang yg harus aku lawan 

Engkau menggodaku dengan kesedihan 
Tapi suaramu yg merdu itu 
Terdengar seperti alunan musik alam 
Aku pun merasa kembali senang 

Engkau menggodaku dengan keberlimpahan 
Tapi aku tak sempat menikmati itu 
Nasehatmu ku dengar selalu 
Hingga hidupku berjalan dalam kesederhanaan 

Engkau memintaku agar tertarik pada kecantikan 
Tapi aku lebih tergoda padamu 
Pada bisikanmu yg lebih kekal dari kecantikan 

Engkau mendesakku agar memamerkan tahta 
Tapi berada di dekatmu 
Adalah tahta paling menyenangkan 
Tenggelam dalam bisikanmu yg tak pernah diam 

Engkau memintaku mengejar kebanggaan 
Berlari mengumpulkan materi 
Agar orang-orang berdecak senang mengagumi 
Tapi bagiku engkaulah yg membuatku merasa cukup 

Engkau memelukku saat subuh datang 
Tapi aku tak keberatan 
Menggendongmu menghadap kepada Tuhan 
Menyembah-Nya dengan cinta tanpa kebencian

No comments:

Post a Comment