Refleksi sebulan ramadan (2) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, July 18, 2018

Refleksi sebulan ramadan (2)

 18 Juli 2015

Kedua, tentang hutang. Aku punya sudut pandang begini, bahwa Tuhan memberi tanggung jawab berat pada seseorang bukan selalu karena seseorang itu kuat. Tetapi bisa jadi Tuhan ingin seseorang itu kuat dengan memberikan tugas tersebut – walalupun Ia tahu hamba-Nya itu lemah. Untuk apa? Mungkin, mempersiapkannya untuk masa depan yang ‘besar’. Atau jika memang masa depan yang ‘seperti itu’ tak terjadi, paling tidak akan ada kenangan. Bahwa diri yang lemah itu ternyata mampu mengemban tugas yang cukup berat, yang tak semua manusia muda mampu menyelesaikannya. Aku tak lagi menjelaskan ayat Tuhan : Dia tak memberikan masalah di luar kapasitas hamba-Nya. Itu penjelasan lama. Tafsir barunya belum aku dapatkan lagi (hehe).

Hari Rabu sebelum penerimaan rapot, aku mengirim sms random ke beberapa teman untuk berhutang sekian juta. Hanya ada satu balasan, dan itu juga meminjamkan dengan jangka waktu, karena memang bukan uang miliknya sendiri. aku tertawa – bersyukur, tak masalah bagiku. Aku senang bermain ‘taruhan’ dengan Tuhan. Selama jangka waktu itu, apakah aku bisa menutup hutang itu. yang sebenarnya, Tuhan-lah yang sedang bermain dengan diri-Nya sendiri. Ia mentakdirkan aku begitu, dan Ia juga yang menyelesaikannya. Dan benar, jangka waktu beberapa hari itu, aku mampu menepati janji, menutup hutang itu. tantu, dengan uang hutang yang lain lagi (haha). Tapi, hidup ini kan memang begitu. Kita semua berhutang, bukan Cuma dalam bentuk uang – mungkin untuk pelampiasan hasrat dunia, tetapi juga pada orangtua kita, teman kita, atau bahkan Tuhan. Karena itu kita akan diminta pertanggungjawaban atas hidup ini, masing-masing, detail. Untuk apa ‘hutang’ hidup di dunia ini kita lakukan. Surga bagi mereka yang memanfaatkan ‘hutang’ ini untuk kebermanfaatan bersama orang miskin, dan neraka untuk mereka yang lupa bahwa mereka sebenarnya hidup dari ‘berhutang’ pada Tuhan. Aku belajar dari semut ramadan kemarin. Aku bertanya pada para semut, “Bagaimana kalian bisa bekerja keras dengan terus bertasbih mensucikan Tuhanmu? Ajarkan aku, semut...” atau pada burung yang mengajarkanku keluar dari mainstream. Aku bertanya, “Mengapa kau tetap bisa bernyanyi (bebas), sedang sebenarnya kau berada dalam kurungan (penjara)?” kita ini terpenjara dunia. Tak ada yang benar-benar bisa lepas dari jerat dunia, karena jasad kita sangat membutuhkannya. Sebagian kita terlupa, berlebihan dalam berpikir, menganggap jiwa juga membutuhkan dunia. Menutupi pandangan hati, bahwa itu hanya untuk jasad, sedang jiwa membutuhkan pahala, atau cinta.

Ketiga, tentang pengunduran diri dua guru, salah satunya adalah kakak iparku sendiri. Lincoln** pernah berkata, “Jika kau ingin mengetahui watak sebenarnya seseorang, jadikanlah ia seorang pemimpin,” barangkali, memang aku yang terlalu lamban dalam bekerja. Masih begitu plin-plan dalam membuat aturan, atau mungkin masih terlalu idealis. Sampai kakak iparku memutuskan untuk mengundurkan diri, selain alasan menemani kakakku yang sedang merintis pekerjaan baru. Aku akui, aku tak bersih dari kesalahan. Yang aku sesali adalah, kita terkadang tak betah dengan dialog mencerahkan. Aku orang yang senang berdialog, menyelesaikan dengan memberikan pemahaman dari berbagai sudut pandang terlebih dahulu. Tapi, yah, barangkali aku yang memang harus menerima, bahwa kini aku hidup di suatu tempat yang tak begitu membutuhkan ilmu dan kebijaksanaan. Perubahan terjadi begitu pelan, seperti menciptakan jalan baru. Keterburu-buruan bisa berakibat fatal. Aku harus menerima guru baru, membina, dan mengkader lagi dari awal. Perpisahan saja sudah begitu berat, tapi ada yang lebih berat : memulai kembali dari awal. Untuk segala kesalahanku, aku minta maaf.
Keempat, aku ada rencana mengundurkan diri dari SMK, karena itu ramadan kemarin aku wariskan sedikit kemampuanku dalam membuat film kecil. dulu waktu kuliah, secara amatir aku menjadi sutradara sekaligus penulis skenarionya. Akting, penghayatan, pengucapan kata-kata (retorika) aku yang menunjukannya. Jadi, sebelum aku keluar, aku sudah memberikan sesuatu yang beberapa tahun ke depan mereka akan paham bahwa itu sangat berharga. Mengapa mundur? Ada tugas yang begitu besar, baik di sekolahku sendiri – yang aku harus fokus, dan di sekolah itu. Tugas besar apa di sekolah itu yang kau takut tak bisa menyelesaikannya? Emm... not the time yet. (hehe)

Kelima, protes beberapa orangtua siswa yang anaknya tinggal kelas. Aku tak peduli dengan nikmatnya menjadi guru PNS bersertifikasi yang bekerja di bawah kemampuan mereka sebenarnya. Aku tak peduli dengan segala fasilitas yang ada di sekolah-sekolah perkotaan. Aku tak peduli dengan segala perhatian orangtua siswa perkotaan yang peduli pada sekolah anak-anaknya. Tapi aku peduli pada sekolah itu, yang gedung saja belum punya, orangtua siswa sebagian besar lemah ekonomi, lemah pendidikan, mudah terprovokasi, dan dikelilingi takhayul nenek moyang mereka. Memahamkan bahwa anaknya membutuhkan perhatian di rumah saja sudah susah, apalagi memahamkan ketika anaknya memang belum mampu untuk belajar di tingkat selanjutnya. Di rumah dibiarkan, ketika tinggal kelas, mereka protes, sedang dipahamkan mereka tak akan paham – karena lemah pendidikan. Mengatasi orang-orang semacam ini, tak bisa hanya dengan kesabaran. Tapi keluar dari frame-frame manusia normal. Kesabaran yang ‘tak normal’, sampai mendekati – mungkin – maqamat (tingkatan) ikhlas, atau ‘kegilaan’.

Orangtua yang lain, ingin berhutang pada sekolah. Beralasan untuk membawa kayu potongannya untuk dijual. Dan nanti setelah dijual baru akan melunasi hutang itu. kok sampai sekolah memberi hutang? Ini pemahaman yang salah dari mereka – sebagian masyarakat sana, yang menganggap bantuan dari kakakku dulu (waktu masih menjabat kepala sekolah) sebagai bantuan dari sekolah, bukan secara pribadi. Efeknya, bola salju. Menggelinding semakin besar, menular pada orang-orang dengan pemahaman hidup yang rendah. Lebih hebatnya, si orangtua itu, setelah aku selidiki, gemar bermain judi togel (pasang nomer). Aku bilang tadi, kau tak bisa hidup dengan kesabaran normal di tempat itu.

Orangtua yang lain lagi, anaknya mengidap psikopath. Sering mengamuk di rumah, menganiaya adiknya yang masih TK, mengancam membunuh siapa saja yang mengganggu hidupnya. Katanya sih jutaan sudah keluar, mulai dari membeli ‘air berkah’ dari pada ustadz (orang pintar), memanggil ‘ustadz’ spesialis penyakit mistik, sampai di rukyah yang ternyata bukan dia yang muntah (tanda ada gangguan jin) tapi justru ibunya. Gubrak!

Aku selidiki dengan pendekatan psikologis. Aku minta si anak datang ke ruang kepala sekolah, duduk di sampingku. Aku rasakan auranya, aku genggam tangannya. Ternyata? Dia mengidap sindrom traumatis yang begitu parah. Aku tanya tentang keadaannya di sekolah sebelumnya (ia pindahan). Dan benar, di sana ia dianiaya teman-temannya, di bully, diremehkan guru, dan orangtua pun tak begitu memahami, karena memang lemah pendidikan. Tentu, dia senang menganiaya adiknya yang kecil itu, karena itu sebagai ekses pelampiasan dendam yang mengendap. Pada orangtua pun sama, dia menyalahkan total orangtua yang tidak peduli pada keadaannya di saat-saat itu (beberapa tahun yang lalu). Tiap manusiamemiliki titik jenuh dalam kesabarannya. Memiliki ‘batas tampung’ kemarahan di dalam dirinya. Dan ketika itu tak tertampung lagi, lalu tak ada yang memahaminya, seperti itulah akibat buruknya. Akhirnya, ia seperti anak tak waras yang suka kambuh gilanya (sakit jiwa). Ditambah lagi, pengobatan yang tak sesuai : pada ustadz-ustadz kolot, apalagi rukyah yang ‘salah tempat’. Para ustadz rukyah tak tahu detail, mereka hanya tahu, orang kesana untuk dirukyah, apapun permasalahannya. Dan saat dirukyah, si anak pun senyum-senyum sendiri – gak ngefek. Lebih parahnya, setelah sang ibu muntah, komentar bapaknya adalah, “Jinnya terlalu kuat, Pak!” ceritanya padaku. Aku ingin terbahak, tapi ku tahan dalam hati. Aku bilang juga, menemani masyarakat di sana harus memiliki kesabaran yang ‘tak normal’. Apakah orangtuanya bisa dipahamkan dengan penjelasan psikologis tadi? Hehehe.

Kisah terakhir lebih tragis. Sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya. Tentang seorang siswa yang ayahnya ditahan polisi. Ia dituduh menyembunyikan bos-nya, yang menjual bawang curian. Mereka satu keluarga adalah pendatang di kota ini. Rumahnya dari bambu dan kardus bekas. Keluarga muda, dengan tiga anak yang masih kecil-kecil. sebelum kabur dari tempat itu, karena takut dengan ancaman polisi yang akan menahannya lagi – setelah aku berkunjung ke ‘rumah’ pelariannya, seorang ibu datang ke rumahnya, marah-marah, menghina, memaki, karena anaknya digigit sampai berdarah oleh anak mereka. Dua anak itu berkelahi, si anak ibu itu digigit pinggangnya. Tak sampai menangis, karena memang mereka sedang bercanda. Tapi makian dan permintaan uang tiga ratus ribu untuk alasan pengobatan itu bagiku berlebihan. Aku belum pernah merasa marah seperti setelah diceritakan itu. kurang ajar. Jadi pemandu lagu saja merasa sok suci di depan pemulung. Brengsek.

Aku temui keluarga mereka. Tempatnya cukup jauh, sempat tersesat, dan pulang, lalu besoknya kembali ke sana lagi. Saat aku telah membulatkan tekad, maka itu harus aku lakukan. Aku bertemu mereka, sama, mereka menyiapkan rumah dari bambu lagi. aku buka puasa bersama mereka. Saat pulang, aku berikan uang titipan seorang teman dari Hongkong, 250 ribu.

Selama perjalanan mencari rumah mereka, aku berkata dalam hati, “Tuhan, ke mana pun kaki ini melangkah ke arah yang Engkau kehendaki, tersesat atau kembali pada kebenaran, kini aku tahu, hanya satu yang aku tuju : mencari-Mu. Yang aku tunggu petunjuk-Mu lebih dulu, Tuhan. Yang aku cari petunjuk-Mu lebih dulu,” perjalanan itu mendidikku, untuk terus merasa terasing, terus melewati jalan kesunyian diri. Meski wajahku selalu berpaling pada dunia, jangan lepaskan genggaman-Mu dari hatiku, Tuhan. Aku ingin selalu bersama-Mu.

Masih banyak petualangan yang aku jalani ramadan ini. salah satunya, ketika Tuhan memberiku pemahaman tentang ayat isra mi’raj, dan ayat-ayat lain yang langsung membawaku pada-Nya (entah aku tersesat atau apa). Tapi, aku tutup saja kisah ini dengan cerita baru : bertambahnya keluarga kami.
Bayi perempuan kakak terakhirku. Lahir ba’da ashar, Kamis 16 Juli 2015. Aku seakan tersadar kembali, bahwa usiaku memang sudah sepantasnya untuk melepas masa lajang. Dan sebentar lagi aku pun akan memutuskan. Buat kamu yang di sana, bersabarlah. Selangkah lagi perjalanan, aku akan ke rumahmu. Janji.

Grow up, girl! :DGrow up, girl! :D

No comments:

Post a Comment