Refleksi sebulan ramadan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, July 18, 2018

Refleksi sebulan ramadan

Kamis, 1 Syawal 1436 Hijriyah, 16 Juli 2015

Kegagalan adalah pembelajaran paling manis. Tapi kita merasakannya saat ‘lidah hati’ kita sedang sakit. Maka rasa manis itu terasa pahit, bahkan sangat pahit. Innaha tadzkiroh, sesungguhnya itu adalah pembelajaran. Mengapa manusia harus diajari? Mengapa manusia harus diajari berkali-kali, sedang yang lain enggan mengambil pelajaran (takut gagal)? Siapakah yang beruntung, ia yang belajar berkali-kali, atau mereka yang tak diberi kesempatan belajar berulang kali?



Aku bertanya pada ibuku, “Ma, ini hari Rabu ‘kan? Besok masih ramadan sehari lagi ‘kan?” aku benar-benar tak tahu ini hari apa dan tanggal berapa. Serasa seperti habis berkunjung ke dimensi lain. (hehe)

“Rabu apaan? Ini hari Kamis, malam Jumat. Besok lebaran,”

Ya ampun!

Ramadan kali ini sungguh luar biasa dari tahun-tahun sebelumnya. Dan memang mungkin sudah seharusnya seperti itu. Karena bertambahnya usia, kita memang dituntut untuk semakin tinggi pencapaian derajat di hadapan Tuhan. Atau, tentang peningkatan kehidupan secara duniawi, selama itu tak membuat jarak antara kita dengan-Nya.

Ramadan kali ini, aku seperti seorang tawanan yang diburu para penangkap. Dikejar-kejar target, tanggung jawab, permasalahan-permasalahan banyak orang, yang sebenarnya tak yakin aku bisa menyelesaikannya – jika Tuhan tak ‘menunjukan’ diri-Nya dalam ramadan ini. sekedar untuk refleksi sebulan ramadan ini, beberapa persoalan ini akan menjadi rujukan utama suatu saat nanti aku dihadapkan dengan begitu banyak persoalan lagi :
  1. Tertolak cinta untuk kesekian kalinya (ini benar-benar memalukan!haha)
  2. Deadline hutang sekolah, yang hanya diberikan jangka waktu tiga hari (dan gue sama sekali tak punya fuluz! Gila!haha_)
  3. Dua guru mengundurkan diri, mencari guru dan membinanya lagi dari awal (ya ampun).
  4. Membagi pengalaman membuat film pendek pada siswa-siswaku di SMK.
  5. Rencana pengunduran diri dari SMK.
  6. Protes orangtua siswa yang anaknya tinggal kelas.
  7. Menolong siswa yang kena psikopath dan ibunya kena gangguan jin ( -_-‘, gue guru atau dukun seh?hehe)
  8. Orangtua siswa yang ingin meminjam uang dari sekolah (ya ampun, pa, ini sekolah, bukan koperasi -_- )
  9. Administrasi tahun ajaran baru, honor dan THR guru (God must be crazy, i dont have money saperak-perak acan!haha) and the last happiness is....
  10. Keluarga baru, anak dari kakak terakhir gue. Lahir ba’da ashar, Kamis ini. kita, iya, aku sama kamu, kapan mau punya bayinya??wkwk
Pertama tentang cinta. Seperti Gie* yang berkata, “Tak ada pembicaraan yang lebih puitis dari cinta dan kebenaran,” ramadan tahun ini, aku buka dengan kejatuhan cintaku untuk yang ke sekian kali. Jatuh cinta dan mengungkapkannya ibarat mendaki gunung dan menuruni sekaligus. Ada yang sekali mendaki langsung puas, dan mereka tetap di ujung gunung. Tapi, tak jarang orang harus berkali-kali mendaki dan turun untuk berkali-kali. Berkali-kali? Tidakkah melelahkan? Tentu. Bicara tentang rasa lelah, apa yang tak melelahkan dalam hidup ini? semuanya capek. Tapi, mengapa seakan aku tak menunggu saja, atau = kata sebagaian teman dekat, jangan terus kau berpura-pura tertolak, karena sebenarnya aku merekayasa kisah tentang penolakan semacam ini. mengapa? Mengapa kau tak jujur saja sih, Fa, berapa perempuan yang menunggumu di pojok-pojok pengharapan hati mereka?

Tapi, temanku, inilah kenyataannya. Ada sisi gelap – atau mungkin terang, yang aku miliki dalam hal cinta. Tentang pendakian yang belum mampu aku hentikan. Sebagian teman berkata, bukan aku yang menyesal ketika cinta itu tertolak. Tapi, terkadang cinta bukan hanya tentang penerimaan atau ketertolakan. Tapi lebih pada pencerahan hati dan pikiran tentang cinta yang sebenarnya. Seperti pendakian di atas, tiap kali aku terjatuh, turun, karena aku sama sekali tak merasa bersalah atas cintaku itu, aku mampu mendaki lagi dengan wajah penuh kebanggaan. Aku berani tetap menunjukan wajahku, bahwa kejatuhanku tak berpengaruh apa-apa selain kekuatan jiwa yang semakin bertambah. Cinta yang tak pernah berkurang dalam hati, dan pintu yang tak pernah tertutup di depannya : hati. Nikmatilah kejatuhan tertolak, karena selama bukan engkau yang salah, kau harus menunjukan wajahmu dengan bangga untuk mendaki lagi : jatuh cinta lagi berkali-kali.

Apa saja hikmah yang ku dapatkan dari kerikil kecil di awal ramadan itu?

Aku melihat pelakunya – nafsu dan setan, yang bersembunyi di kedalaman jiwa. Mengendalikan pikiran dan perasaan dengan perantara dunia : aku melihat mereka!

Ini pembelajaran berharga bagiku. Selain tentang persepsi dalam diri yang masih saja beranggapan aku begitu istimewa – aku telah menghapus itu, juga tentang keharusan seorang berjiwa besar terjatuh karena hal kecil. mengapa? Mengapa seorang yang begitu kuat, harus kalah dengan cobaan yang sepele? Karena, terkadang saking kuatnya kita, kesadaran kita tak tahu bahwa sudah saatnya kita memelankan langkah. Ketika jiwa yang telah begitu lelah terus melangkahkan kakinya, itu akan berakibat fatal. Maka didatangkanlah kerikil kecil untuk menjatuhkannya. Dan dalam kejatuhan itu, ia akan mengumpulkan kekuatan kembali. Untuk bangkit, dan melanjutkan perjalanan dengan kekuatan yang terisi lagi.

Nafsu menjadikan candu apa saja yang dilakukan seseorang. Pikiran yang tak ditenangkan akan selalu menyesatkan, membuat jalan yang tak seharusnya ada. Dan perasaan yang tak dipahamkan hanya akan melemahkan jiwa. Pikiran akan membantu nafsu untuk selalu melawan keadaan, memberikan pembelaan, memberontak, terus bergerak ketika seharusnya kita diam sejenak. Ketika aku merenungkan ini – ah, aku memergoki jiwaku yang tak selalu mampu mengendalikan nafsu dan rasa takut. Aku tak selalu menang melawan diriku sendiri : pikiran, dkk.

Ketika pemahaman datang, bahwa seseorang yang kita cintai lebih besar sisi gelapnya daripada sisi terang yang dimiliki, pikiran cerdasku membela : Bagaimana aku bisa mencintainya dengan sepenuh hati, jika aku tak tahu sisi gelap yang ia miliki dan menerima itu sebagai bagian dari diriku? Aku mencintainya.

Pertempuran batin terus terjadi dalam jiwaku. Si antitesis melawan pikiran, “Kenyataan tak selalu seperti yang kau katakan, hei pikiran!” bahwa kenyataan tak selalu seperti apa yang kita pikirkan, yang kita takutkan. Benar, bahwa di dalam hati kita ada cinta – yang mungkin begitu besar, dan di tangan kita ada kebahagiaan yang sebaiknya kita bagikan. Tapi tak harus itu dengan seseorang yang telah menutup hatinya untuk kita. Relakanlah, seperti pembelajaran di tahun-tahun yang lalu, tiap orang dalam kebahagiaannya masing-masing. Ikhlaskan, tiap orang berada dalam kebahagiaannya masing-masing. Teruslah berjalan, teruslah mendaki dengan riang.

Ada orang-orang yang tertakdir bodoh lebih dulu. Ada orang-orang yang tertakdir berjalan begitu lambat pada awalnya. Tapi, bukan masa lalu yang menjadikan kita siapa diri kita di saat ini. Tapi, saat inilah yang menentukan, apa yang berani kita putuskan tentang diri kita, akankah tetap menjadi orang baik, atau berbalik putus asa dengan kegagalan itu, lalu menjadikan kita buruk. Tanda jatuh cinta yang benar adalah, kita menjadi semakin baik dari hari kemarin. Kita semakin tabah, tekun belajar kehidupan, mental kita semakin berani menghadapi kehidupan, hati kita semakin lembut, jiwa kita semakin kuat dengan kebijaksanaan. Sebaliknya, jatuh cinta yang salah adalah yang membuat kita semakin buruk dari hari kemarin. Kita semakin malas, berprasangka buruk, mementingkan diri sendiri, dan kualitas yang memfokuskan pada diri sendiri, bukan orang lain atau orang banyak.

Kita menciptakan sesuatu dari dalam diri kita sendiri, yang pada akhirnya kita melawannya. Kita menciptakan rasa takut, lalu kita melawannya dengan keberanian yang juga kita ciptakan sendiri. kita menciptakan kegelisahan, lalu kita melawannya dengan ketenangan yang juga kita adakan sendiri dari dalam diri. Kita menciptakan prasangka buruk, yang pada akhirnya kita lawan dengan prasangka baik yang juga kita ciptakan sendiri. Kita mengobati luka jiwa, yang kita gores sendiri melalui pikiran kita.

Bersambung....

No comments:

Post a Comment