Tempurung keputusasaan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, July 17, 2018

Tempurung keputusasaan

11 Juni 2015

Harapan membawa kekecewaan di belakangnya, dan menggandeng rasa senang di depannya. Ia yg tak bisa kecewa lagi, adalah ia yg tak berharap lagi pada apa-apa, bahkan Tuhan. Kebahagian macam apa yg dimiliki manusia semacam itu?_Jon Q_ 

Jon memelankan laju motor bututnya. Ia memandangi dari kejauhan seseorang yg berjalan ngesot, dibantu dua tangannya. Pikirannya melayang ke tahun-tahun sebelumnya, ketika masih kuliah dulu. 

"Ah, Tuhan, lama sekali aku telah tersesat," desahnya, merenungkan kembali orang-orang yg terlahir lebih tak sempurna dari dirinya. Dari dalam hati, jiwanya bertanya - kembali, "Jika itu kamu, apa yg akan kau lakukan?" 

Jon melanjutkan perjalanannya. Rekan-rekan sesama kepala sekolah sedang menunggunya untuk rapat. Di sela-sela riuh perbincangan manusia 'sempurna' di ruang rapat itu, Jon duduk termangu di kursi paling pojok. 

"Lama sekali, aku tak mencari-Mu lagi, Tuhan," renungnya di pojok ruangan. "Berapa jarak yg dunia ini telah buat antara aku dengan-Mu? Apakah dengan alasan aku menjaga banyak orang di sekolah itu, aku berhak melupakan mereka yg teraniaya oleh kehidupan? Ah, pikiranku penuh sampah." 

Ia merasa lemah. Tak seperti dulu yg pikirannya kosong, membuatnya selalu bahagia. Kini, pikirannya terus bicara, entah ingin berkata pada siapa, entah akan membuktikan apa. Ia kini terpenjara dalam 'tempurung'-nya sendiri. Penjara yg dulu ia hindari, tanpa sadar telah mengurung jiwanya. Apakah ia putus asa? Bukankah keputusasaan hanya ada pada mereka yg masih berharap? Apakah Jon kini telah berharap kembali, melanggar doktrin yg ia bikin sendiri? 

Perdebatan kecil saat Jon masih muda : 

"Jika Tuhan maha kuasa, mengapa Ia tak menciptakan semua manusia sempurna?" kata Jon pada gurunya. 

"Karenah, Ia juga maha kuasa untuk menciptakan ketidaksempurnaan," jawab gurunya. 

"Jika Tuhan maha sempurna, mana mungkin Ia menciptakan ketidaksempurnaan?" 

"Aku tak tahu," jawab gurunya. 

"Bagaimana jika Tuhan saja yg tak sempurna, seperti pria itu yg jalan ngesot? Biar Tuhan tahu bagaimana rasanya hidup seperti itu!" Jon terus nyerocos. 

"Ini kehidupan siapa? Kehidupan kita atau kehidupan Tuhan?" tanya balik gurunya. 

Jon terdiam. 

"Berhentilah berharap, bahkan pada Tuhan. Teruslah berbuat baik, dan milikilah mimpi, jika kau ingin mengubah semua itu." nasehat guru Jon.

No comments:

Post a Comment