Terbang (esai) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, July 23, 2018

Terbang (esai)

8 Juni 2015 pukul 18.58


"Yah, kenapa ayam ga bisa terbang seperti Elang?" tanya anak Jon. Ia tahu, anaknya itu bukan sekedar ingin jawaban tentang beban tubuh yg tak bisa terangkat sayap ayam, atau tentang sayap ayam yg bukan untuk terbang, melainkan untuk menghangatkan anak (untuk ayam betina) dan untuk menggoda bagi ayam jantan. Si Jon kecil perlu jawaban yg lebih dari itu. 

"Kamu udah pernah dengar dongeng tentang ayam dan elang?" tanya Jon, balik. 

"Emm... Yg tentang jarum ajaib itu ya, yah?" jawab Jon kecil. 

"Bukan, ini tentang sekumpulan ayam dan elang di sepetak sawah," 

"O, belum, yah, belum. Ceritain... Ceritaiiin... Yah?" pinta si Jon kecil sambil menarik-narik baju ayahnya. 


"Iya... Iya... Minum dulu dong susunya," kata Jon. 

"Dahulu, ayam dan elang hidup bersama di sepetak sawah," Jon mulai mendongengkan. 

"Mereka bermain bersama, terbang bersama, mengusir ular dan tikus bersama. Tapi, elang ternyata tak puas. Dia ingin tempat bermain yg lebih luas, lebih jauh, lebih tinggi. Karena, mereka hanya bisa terbang di kerendahan. Di suatu sore, ayam dan elang berdialog... 

"Mengapa kamu tak mensyukuri dan menikmati saja yg ada di sini?" kata ayam. 

"Aku bosan, jenuh. Aku ingin menjelajahi langit," kata elang. 

"Tapi kamu tahu, kamu tak bisa terbang tinggi kecuali ku berikan kekuatan terbangku untukmu," 

"Aku tahu," kata elang lagi. "Karena itu, aku minta kamu di bumi saja, bersama ayam-ayam kecil. Dan berikan kekuatan terbangmu untukku. Toh, kalian (ayam-ayam) sudah disediakan makanmu di sawah itu," 

Tentu, si ayam sakit hati. Dia merasa kecewa, karena orang yg disayanginya, bukan hanya akan pergi, tapi juga meminta apa yg dimilikinya. 

"Kamu tahu, apa yg ayam lakukan untuk elang?" tanya Jon pada anaknya. 

Bersambung,

No comments:

Post a Comment